SMA Tabernakel Tingkatkan Pengawasan dan Pembinaan Karakter Siswa
- 29 Jul 2026 15:00 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - SMA YPK Tabernakel Nabire menegaskan komitmennya untuk memperkuat pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, serta meningkatkan pengawasan terhadap peserta didik setelah sejumlah siswanya diduga terlibat dalam kegiatan di kawasan Pantai Waroki, Distrik Nabire Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd., saat memberikan keterangan kepada wartawan di Mapolres Nabire, Senin (27/7/2026).
Suardiman menjelaskan, pihak sekolah tidak mengetahui aktivitas yang dilakukan para siswa setelah seluruh kegiatan belajar mengajar berakhir. Menurutnya, pada Sabtu (25/7/2026), proses pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler berlangsung seperti biasa hingga sekitar pukul 11.00 WIT.
"Setelah seluruh agenda sekolah selesai, para siswa telah berada di luar tanggung jawab sekolah sehingga aktivitas mereka selanjutnya tidak berada dalam pengawasan guru maupun pihak sekolah," ujarnya.
Ia menerangkan bahwa kegiatan pada hari tersebut merupakan agenda rutin sekolah yang meliputi pembelajaran di kelas dan kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian dari pembentukan karakter serta pengembangan minat dan bakat siswa.
Pihak sekolah baru mengetahui adanya keterlibatan beberapa siswanya setelah menerima informasi bahwa sejumlah pelajar diamankan aparat kepolisian. Berdasarkan keterangan yang diterima sekolah, para siswa awalnya mengikuti ajakan menghadiri kegiatan di kawasan Pantai Waroki.
Dari data yang diterima pihak sekolah, lima dari delapan pelajar yang sebelumnya menjalani pendalaman oleh kepolisian merupakan siswa aktif SMA YPK Tabernakel Nabire. Sementara dua lainnya merupakan alumni sekolah tersebut dan satu pelajar berasal dari sekolah berbeda.
Suardiman menyatakan sekolah menghormati seluruh proses yang dilakukan aparat penegak hukum dan menyerahkan penanganan perkara sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Ia juga mengapresiasi pendekatan pembinaan yang diterapkan Polres Nabire terhadap para pelajar.
Meski demikian, sekolah tetap akan menerapkan langkah pembinaan sesuai tata tertib yang berlaku. Menurutnya, tindakan tersebut lebih diarahkan pada proses edukasi dibandingkan hukuman karena sebagian besar siswa yang terlibat masih berada pada jenjang kelas X dan membutuhkan pendampingan.
"Kami akan memberikan pembinaan sesuai aturan sekolah. Pendekatan yang dilakukan lebih mengedepankan pendidikan agar mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan," katanya.
Sebagai tindak lanjut, sekolah akan memanggil orang tua seluruh siswa yang terlibat untuk mengikuti pembinaan bersama sekaligus menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk komitmen meningkatkan pengawasan terhadap anak di lingkungan keluarga.
Selain itu, SMA YPK Tabernakel Nabire akan memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter melalui pembinaan keagamaan, mata pelajaran Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), serta berbagai kegiatan yang menanamkan nilai-nilai cinta tanah air.
Suardiman juga menegaskan bahwa di lingkungan sekolah hanya terdapat satu organisasi resmi, yakni OSIS. Menurutnya, sekolah tidak memberikan izin kepada organisasi lain untuk melakukan aktivitas di dalam lingkungan pendidikan.
"Segala bentuk kegiatan organisasi di luar OSIS bukan merupakan bagian dari program sekolah. Apabila ada aktivitas di luar lingkungan sekolah, hal tersebut berada di luar pengawasan kami," tegasnya.
Ia mengakui pengawasan terhadap siswa memiliki keterbatasan karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama keluarga dan masyarakat setelah jam pelajaran selesai. Oleh sebab itu, peran orang tua dinilai sangat penting dalam membimbing serta mengawasi pergaulan anak.
Suardiman berharap sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat terus diperkuat agar peserta didik tidak mudah terpengaruh oleh aktivitas yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, sejak awal tahun ajaran, pihak sekolah telah menyampaikan kepada seluruh orang tua mengenai pentingnya pendidikan karakter, kedisiplinan, dan penguatan wawasan kebangsaan sebagai bagian dari proses pembentukan generasi muda.
Ia menambahkan, apabila di kemudian hari terjadi pelanggaran berat yang dilakukan secara berulang, sekolah akan mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, kebijakan pendidikan saat ini lebih mengedepankan pembinaan daripada pemberhentian siswa.
"Dalam dunia pendidikan sekarang, istilah yang digunakan bukan lagi mengeluarkan siswa, melainkan mengembalikan kepada orang tua agar proses pembinaan dapat dilakukan secara bersama antara keluarga dan sekolah," pungkasnya.
Melalui langkah tersebut, SMA YPK Tabernakel Nabire menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pendidikan karakter, nasionalisme, serta membangun kolaborasi dengan orang tua dan seluruh pemangku kepentingan guna mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....