Pemkab Mimika Perkuat Tata Kelola 40 Sanggar Budaya Amungme dan Kamoro

  • 21 Jul 2026 20:37 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif menggelar Pelatihan Manajemen Sanggar Kebudayaan dan Seni di Aula Loresa SP 3, Selasa 21 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 24 Juli 2026 ini diikuti 120 peserta dari 40 sanggar budaya Amungme dan Kamoro, dengan masing-masing sanggar mengirimkan tiga perwakilan, yakni ketua, sekretaris, dan bendahara.

Pelatihan mengusung tema "Mengelola Karya Merawat Budaya", yang menekankan pentingnya pengelolaan karya seni secara profesional sekaligus menjaga kelestarian budaya secara berkelanjutan. Program ini merupakan bagian dari upaya penguatan kebudayaan daerah yang didukung melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus).

Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, beserta jajaran, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Papua Desy Polla Usmani sebagai narasumber, serta para peserta dari sanggar budaya. Pembukaan dilakukan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Mimika, Ananias Faot, yang mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob. Pelatihan resmi dibuka dengan pemukulan tifa.

Dalam sambutan Bupati Mimika yang dibacakan Ananias Faot, disampaikan bahwa tema pelatihan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan memiliki makna mendalam sebagai ajakan untuk mengelola karya seni secara profesional sekaligus merawat warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

"Karya seni lahir dari kreativitas, ketekunan, dedikasi, serta kecintaan terhadap budaya. Namun demikian, karya yang baik tidak akan bertahan lama apabila tidak dikelola secara profesional. Demikian pula budaya tidak akan tetap lestari apabila tidak dirawat secara sadar, berkelanjutan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujarnya.

Ia menegaskan sanggar budaya merupakan benteng pelestarian identitas masyarakat Mimika di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan budaya digital. Karena itu, pengelolaan sanggar harus dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan agar mampu berkembang menjadi lembaga budaya yang mandiri.

"Semangat dan idealisme tidaklah cukup. Pengelolaan sanggar yang modern, transparan, akuntabel, profesional, serta berkelanjutan merupakan kunci agar sanggar mampu bertahan menghadapi perubahan zaman sekaligus berkembang menjadi lembaga kebudayaan yang kuat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," katanya.

Melalui pelatihan tersebut, pemerintah berharap peserta memperoleh pengetahuan mengenai manajemen sumber daya manusia, administrasi, tata kelola organisasi, manajemen produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan yang baik. Selain itu, pelatihan diharapkan mampu membangun pola pikir baru sehingga para pengelola sanggar dapat menjalankan organisasinya secara kreatif, inovatif, profesional, dan berkelanjutan.

Ananias Faot juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah telah memberikan dukungan kepada sanggar-sanggar budaya, baik melalui pembangunan fasilitas maupun alokasi anggaran. Karena itu, pengelola sanggar diminta memanfaatkan dukungan tersebut secara bertanggung jawab agar menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Setelah dibangunkan sanggarnya dan diberikan anggarannya, maka pengelola harus benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Jangan anggaran habis tetapi tidak ada hasil. Pemerintah akan terus membina sanggar, tetapi harus ada umpan balik yang positif dari para pengelolanya," tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga tengah menyiapkan langkah untuk membantu promosi hasil karya seni dan budaya melalui media digital agar produk budaya lokal memiliki pasar yang lebih luas. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan pelaku seni sekaligus memperkuat pelestarian budaya Amungme dan Kamoro bagi generasi mendatang.(Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....