Indonesia Kuat di tengah Tekanan Energi Global
- 30 Mar 2026 21:40 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Ketegangan geopolitik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz kini berdampak luas pada ekonomi global. Dampaknya tidak hanya terbatas pada pasokan minyak, tetapi merambat ke inflasi, nilai tukar, dan risiko negara.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menyebut guncangan ini sebagai “macro filter” yang membedakan negara dengan ketahanan ekonomi kuat dan yang rentan.
“Gangguan di Selat Hormuz tidak mendistribusikan tekanan secara merata, tetapi menilai ulang ketahanan setiap ekonomi berdasarkan kekuatan neraca dan kredibilitas kebijakan,” ujar Shan Saeed, Senin (30/3/2026).
Di ASEAN, negara dengan ketergantungan impor energi tinggi seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Kamboja menghadapi tekanan berlapis: inflasi naik, ruang fiskal menyempit, dan mata uang tertekan secara bersamaan.
Namun Indonesia menempati posisi berbeda. Dengan surplus perdagangan US$41 miliar pada 2025, surplus nonmigas di atas US$60 miliar, serta dominasi komoditas strategis seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit, Indonesia memiliki bantalan yang cukup untuk menyerap volatilitas global.
Shan menambahkan, Indonesia bahkan bisa memanfaatkan kenaikan harga energi untuk menguatkan neraca eksternal. “Dalam lingkungan harga energi tinggi, Indonesia tidak hanya menyerap shock, tetapi mengonversinya menjadi penguatan neraca eksternal,” jelasnya.
Meskipun risiko tetap ada, terutama jika harga minyak menembus US$110 per barel dan menekan fiskal melalui subsidi energi, Shan menilai fundamental eksternal yang solid membantu Indonesia tetap resilien, bahkan mampu mengubah guncangan global menjadi keunggulan strategis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....