Harga Pertalite dan Solar Tetap Meski Rupiah Melemah

  • 31 Mei 2026 13:33 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.850 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, pemerintah menegaskan kebijakan penahanan harga BBM bersubsidi tetap berlaku di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah dan pergerakan harga minyak mentah dunia. Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan harga BBM bersubsidi tidak akan disesuaikan meskipun terjadi tekanan pada pasar energi global. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga pasokan energi, termasuk meningkatkan produksi dan pengolahan migas di dalam negeri.

Yuliot juga memastikan stok Pertalite dan Solar masih berada di atas batas cadangan minimum yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, ketersediaan BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan solar CN 51 juga dinyatakan aman untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pelemahan rupiah yang pada perdagangan Jumat (29/5/2026) bergerak di level Rp17.865 per dolar AS. Bahkan, pada pasar offshore, rupiah sempat mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS dengan posisi Rp17.984 per dolar AS.

Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, telah berjanji harga Pertalite, Solar, dan LPG subsidi 3 kilogram tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Ia menyatakan komitmen tersebut tetap berlaku meskipun harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) mencapai 100 dolar AS per barel.

Sementara itu, data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan realisasi penyaluran Solar bersubsidi hingga 17 Mei 2026 mencapai 7,04 juta kiloliter atau sekitar 37,8 persen dari kuota tahunan sebesar 18,6 juta kiloliter.

Untuk Pertalite, realisasi penyaluran mencapai 10,45 juta kiloliter atau sekitar 35,74 persen dari total kuota tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 29,26 juta kiloliter. Angka tersebut menunjukkan penyaluran masih berada dalam koridor yang telah direncanakan pemerintah.

Berdasarkan data BPH Migas per 18 Mei 2026, stok nasional Pertalite mencapai 1,37 juta kiloliter dengan ketahanan pasokan sekitar 16 hari. Sementara stok Solar tercatat 1,57 juta kiloliter dengan ketahanan pasokan mencapai 16,4 hari, sedikit di atas batas minimum yang ditetapkan pemerintah.

Selain BBM bersubsidi, stok BBM nonsubsidi juga dilaporkan mencukupi. Pertamax memiliki ketahanan pasokan hampir 20 hari, Pertamax Turbo mencapai lebih dari 60 hari, sedangkan Pertamina Dex memiliki ketahanan sekitar 35 hari. Pemerintah berharap kondisi ini dapat menjaga keamanan pasokan energi nasional di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....