TP2TB Dibentuk, Mimika Fokus Temukan dan Dampingi Pasien TBC

  • 17 Sep 2026 14:25 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika - Pemerintah Kabupaten Mimika membentuk Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis atau TP2TB untuk memperkuat upaya penanganan dan pengendalian penyakit TBC di daerah. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Horison Ultima Kabupaten Mimika, Kamis, 17 September 2026.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Mimika, Ananias Faot, membuka kegiatan dengan pemukulan tiva. Ia menegaskan, penanggulangan TBC tidak dapat hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Ananias mengatakan, TBC merupakan persoalan yang berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, kondisi sosial ekonomi, kualitas tempat tinggal, perilaku masyarakat, mobilitas penduduk hingga produktivitas masyarakat.

"Karena itu, diperlukan kerja bersama antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dunia usaha, TNI, Polri, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh adat, media dan masyarakat," ujar Ananias.

Menurutnya, pembentukan TP2TB harus menghasilkan kerja nyata dan tidak hanya berhenti pada pembentukan tim maupun penerbitan surat keputusan. Tim harus memiliki target yang jelas, pembagian tugas antar-OPD, indikator kinerja, jadwal kerja, mekanisme pelaporan serta evaluasi secara berkala.

Ia juga meminta penemuan kasus TBC dilakukan secara aktif, termasuk pemeriksaan terhadap keluarga dan kontak erat pasien. Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah Mimika yang terdiri dari kawasan perkotaan, kampung, pesisir serta wilayah dengan akses pelayanan kesehatan yang terbatas.

Ananias menekankan pentingnya pendampingan pasien agar tidak terjadi putus pengobatan. Menurutnya, pasien TBC harus didampingi hingga menyelesaikan terapi dan dinyatakan sembuh, sekaligus dilakukan upaya untuk memutus rantai penularan di lingkungan masyarakat.

"Jangan hanya mengobati pasien, tetapi kita juga harus memutus rantai penularannya. Pastikan tidak ada pasien yang putus pengobatan," tegasnya.

Selain pendampingan, Ananias meminta pemerintah distrik, pemerintah kampung hingga RT dilibatkan dalam penanganan TBC. Ia juga menekankan pentingnya data yang akurat agar setiap kasus dan proses pendampingan di lapangan dapat tercatat dengan baik pada tingkat kabupaten.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, mengatakan penanganan TBC ke depan akan diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Dinas Kesehatan akan bekerja sama dengan OPD, LSM, organisasi kemasyarakatan dan organisasi profesi untuk memperluas penemuan serta penanganan kasus.

"Penanganan TBC sekarang tidak lagi bertumpu pada Dinas Kesehatan. Kita mulai merangkul dan bekerja sama dengan lintas OPD, lintas LSM, lintas organisasi masyarakat dan organisasi profesi," kata Godfried.

Berdasarkan data Program TBC Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, pada tahun 2025 tercatat 2.407 pasien menjalani pengobatan TBC. Sementara Januari hingga Mei 2026 ditemukan 987 kasus baru, dan hingga Mei 2026 terdapat 982 pasien yang masih dalam proses pengobatan. Angka kesembuhan kohort tahun 2024 tercatat 76 persen, dengan target keberhasilan pengobatan sebesar 90 persen.

Untuk memperkuat pemeriksaan dan diagnosis, Dinas Kesehatan Mimika pada tahun 2026 melakukan pengadaan empat alat Tes Cepat Molekuler atau TCM untuk Puskesmas di wilayah pesisir. Godfried mengatakan, layanan TBC di kawasan kota telah didukung fasilitas TCM, sementara penguatan selanjutnya diarahkan ke wilayah pesisir dan pedalaman.

Dinas Kesehatan juga memperluas pelayanan TBC hingga tingkat kampung melalui penguatan kapasitas Puskesmas Pembantu, termasuk skrining, penemuan kasus, pemantauan pengobatan, investigasi kontak dan terapi pencegahan. Masyarakat yang mengalami gejala TBC, terutama batuk berkepanjangan, diimbau segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Godfried mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada pasien TBC. Menurutnya, pasien harus dirangkul dan diberikan dukungan agar disiplin menjalani pengobatan hingga sembuh. "TBC bukan sesuatu yang tabu. Pasien harus dirangkul dan mengikuti saran tenaga kesehatan agar pengobatan dapat dijalani sampai sembuh," pungkasnya.(Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....