Kasus Malaria Mimika Turun Signifikan pada 2025

  • 05 Feb 2026 06:28 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID,MIMIKA– Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika,Saat ditemui di halaman Kantor Bupati Mimika SP 3, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Rizal Ubra, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi pelayanan kesehatan tahun 2025 yang dilaksanakan pada Rabu pekan lalu. 

Evaluasi tersebut bertujuan untuk melihat capaian kinerja serta mengidentifikasi permasalahan kesehatan prioritas lokal di daerah, seperti malaria, HIV, dan tuberkulosis (TBC), Senin 2 Februai 2026.

Dalam keterangannya, Reynold menjelaskan bahwa secara umum indikator kinerja utama menunjukkan progres yang cukup baik, khususnya pada penanganan malaria. Jumlah pemeriksaan atau testing malaria mengalami peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2023 tercatat sekitar 500 ribu pemeriksaan, meningkat menjadi 700 ribu pada 2024, dan pada 2025 melonjak hingga lebih dari 1 juta pemeriksaan.

“Jika dibandingkan tiga tahun terakhir, peningkatan testing hampir mencapai tiga kali lipat,” jelasnya.

Untuk jumlah kasus malaria, Reynold menyebutkan berada pada angka sekitar 188 ribu kasus. Meski terlihat meningkat, angka tersebut masih berada dalam batas prediksi Dinas Kesehatan, yakni berkisar antara 188 ribu hingga maksimal 200 ribu kasus per tahun. Bahkan, secara persentase, terjadi penurunan signifikan dari 22 persen pada 2024 menjadi 15 persen pada 2025.

Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan meliputi percepatan deteksi dini, pengobatan sesuai standar, serta pengendalian faktor risiko dan vektor. Salah satu langkah inovatif adalah pengendalian vektor dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

“Tahun lalu kami bersama Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Cabang Mimika memulai pilot project pengendalian vektor di RT tertentu di Kelurahan Kamoro Jaya. Program ini terintegrasi dengan kegiatan Clean Friday atau Jumat Bersih dan berdampak positif,” ungkapnya.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil melalui terapi pencegahan malaria. Ibu hamil yang mengikuti terapi tersebut dapat terlindungi hingga 8–9 kali, sementara yang tidak mengikuti berisiko tinggi terkena malaria.

Pada penanganan TBC, Reynold menyampaikan bahwa terjadi peningkatan dalam deteksi kasus, namun jumlah kasus relatif stabil, yakni sekitar 1.200–1.300 kasus per tahun. Tingkat keberhasilan pengobatan dalam tiga tahun terakhir juga stabil di angka 76 persen, yang berarti dari 10 pasien, sekitar 7–8 orang berhasil menyelesaikan pengobatan selama 6 hingga 12 bulan.

“Tantangan kami ke depan adalah pemeriksaan TBC lebih awal. Tahun ini kami akan mengoptimalkan penggunaan mesin TCM (Tes Cepat Molekuler) langsung ke daerah-daerah terpencil, tidak lagi hanya dirujuk ke rumah sakit di kota,” jelasnya.

Sementara itu, untuk HIV, prevalensi di Mimika berada pada angka 1,02 persen dan relatif stabil dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini sejalan dengan jumlah pasien HIV yang menjalani pengobatan secara rutin.

Dari ketiga program prioritas tersebut, Reynold menegaskan bahwa partisipasi aktif menjadi kunci keberhasilan. Ia juga mengapresiasi peran media yang terus membantu menyampaikan informasi kepada masyarakat serta mendorong motivasi dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan penyakit kronis.

“Dukungan media dan kepatuhan pasien sangat membantu kami dalam menekan angka penyakit dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Mimika,” pungkasnya. (SAN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....