Kelambu dan PHBS Jadi Kunci Cegah Malaria di Papua Tengah

  • 04 Agt 2026 03:04 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Upaya pencegahan malaria di Papua Tengah tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada perilaku masyarakat dalam melindungi diri dari gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu berinsektisida, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menghindari aktivitas berisiko pada malam hari menjadi langkah penting untuk menekan penularan penyakit tersebut.

Dikutip dari website Malaria Kementerian Kesehatan RI, hingga periode Tahun 2026 tercatat sebanyak 3.789.505 pemeriksaan malaria, dengan 380.605 kasus positif, 339.020 kasus diobati sesuai standar, dan 173 kasus meninggal. Secara global, World Malaria Report 2022 mencatat terdapat 247 juta kasus malaria di 84 negara endemis, sementara Indonesia merupakan salah satu negara endemis dengan sekitar 89 persen kasus positif pada 2022 berasal dari Provinsi Papua.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kelompok usia produktif 15 hingga 64 tahun masih mendominasi kasus positif malaria pada 2026, yakni sebesar 64,90 persen. Dari sisi jenis kelamin, laki-laki menyumbang 58,87 persen kasus positif, sedangkan perempuan 41,13 persen. Sementara berdasarkan jenis parasit, Plasmodium falciparum menjadi penyebab terbanyak dengan proporsi 49,76 persen, disusul Plasmodium vivax sebesar 42,71 persen.

Tim Kerja Malaria Kementerian Kesehatan, Riskha Tiara Puspadewi, mengatakan pemerintah telah menjalankan program nasional pembagian kelambu berinsektisida sebagai salah satu intervensi utama dalam pengendalian malaria. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepatuhan masyarakat dalam memanfaatkannya secara benar.

"Untuk pencegahan, kita di program nasional membagikan kelambu anti nyamuk. Itu menjadi salah satu intervensi pengendalian faktor nyamuk malaria. Tetapi bagaimana masyarakat benar-benar menggunakan kelambu tersebut menjadi salah satu tantangan. Karena kita sudah membagikan kelambu, tapi ternyata kelambu itu terpasang, sementara orangnya tidur di luar," ujarnya.

Menurut Riskha, nyamuk penyebab malaria memiliki perilaku berbeda dengan nyamuk penyebab demam berdarah. Nyamuk malaria umumnya aktif menggigit mulai sore, malam hingga menjelang pagi, sehingga masyarakat yang masih beraktivitas di luar rumah pada waktu tersebut memiliki risiko lebih tinggi terpapar malaria.

Ia mengimbau masyarakat menggunakan lotion atau repellent antinyamuk saat beraktivitas di luar rumah, mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, serta menanam tanaman seperti serai di sekitar rumah untuk membantu mengurangi keberadaan nyamuk. Selain itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga perlu ditingkatkan dengan membersihkan genangan air di sekitar rumah yang berpotensi menjadi habitat nyamuk malaria.

Riskha menambahkan, masyarakat diharapkan tidak hanya memantau keberadaan jentik nyamuk di dalam rumah, tetapi juga memperhatikan lingkungan sekitar agar tidak terdapat genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menekan angka penularan malaria sekaligus mendukung target eliminasi malaria di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....