Rupiah Melemah 0,28%, Ditutup Rp17.720 per Dolar AS
- 31 Agt 2026 18:57 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Rupiah menutup perdagangan terakhir Agustus 2026 dengan pelemahan 0,28 persen ke level Rp17.720 per dolar AS pada Senin 31 Agustus 2026. Pergerakan rupiah tertekan perubahan ekspektasi pasar menyusul sinyal hawkish dari The Fed dan proyeksi perlambatan kinerja perdagangan Indonesia.
Melansir data Bloomberg, rupiah sepanjang Agustus masih mencatat penguatan 1,47 persen dan berada di posisi keempat sebagai mata uang Asia dengan penguatan terbesar selama bulan tersebut. Namun, capaian itu sedikit terkikis dibandingkan posisi Jumat (28 Agustus 2026) yang mencatat penguatan 1,52 persen.
Salah satu sentimen yang menekan rupiah adalah sinyal hawkish dari The Fed. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga Fed Fund Rate atau FFR, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury tenor pendek dan penguatan dolar Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai 0,48 persen menjadi 89,74 dolar AS per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang dan energi dari luar negeri.
Inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,15 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,88 persen. Kenaikan tersebut terutama diperkirakan berasal dari harga makanan dan bahan bakar, meskipun subsidi pemerintah masih menjadi bantalan sehingga dampak kenaikan harga energi global belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.
Sentimen lainnya berasal dari kinerja perdagangan Indonesia yang diperkirakan belum sepenuhnya pulih. Ekspor Juli diproyeksikan melambat menjadi 3,2 persen dari capaian bulan sebelumnya sebesar 8,84 persen.
Sementara itu, pertumbuhan impor diperkirakan masih lebih tinggi dibandingkan ekspor meskipun lajunya juga diproyeksikan melambat menjadi 23,25 persen. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian pasar terhadap prospek perdagangan Indonesia dan pergerakan rupiah.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, memperkirakan rupiah dalam jangka pendek masih berada dalam tekanan. Rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp18.050 per dolar AS, dengan titik berat di sekitar Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Pergerakan rupiah pada pekan ini juga akan dipengaruhi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Jumat, 4 September 2026. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed.
Jika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan, rupiah berpotensi memperoleh ruang penguatan ke kisaran Rp17.500 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sebaliknya, data ketenagakerjaan yang kuat dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Kondisi tersebut karena data tenaga kerja yang positif dapat memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan hawkish The Fed untuk menjaga inflasi Amerika Serikat. Arah kebijakan bank sentral AS tersebut akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan rupiah dalam perdagangan selanjutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....