IHSG Menguat 0,93 Persen, Ditopang Keputusan The Fed
- 30 Jul 2026 19:36 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi I pada Kamis, 30 Juli 2026, di zona hijau. IHSG menguat 0,93 persen ke level 6.147, didorong sentimen positif dari keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) yang mempertahankan suku bunga acuannya.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, nilai transaksi hingga siang hari mencapai Rp6,51 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 14,19 miliar saham. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pukul 13.00 WIB melemah 0,17 persen ke level Rp18.085 per dolar AS.
Pergerakan pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Laporan Axios menyebut militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menegaskan negaranya akan terus membalas serangan terbaru dari Iran.
Di tengah sentimen tersebut, sektor konsumen primer, properti, dan konsumen nonprimer menjadi penopang utama penguatan IHSG. Ketiga sektor tersebut masing-masing menguat 1,59 persen, 1,54 persen, dan 1,33 persen.
Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga menguat 1,35 persen ke level 614,68. Sejumlah saham yang mencatat kenaikan signifikan antara lain PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 5,61 persen, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 3,83 persen, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) bertambah 3,33 persen.
Selain itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 3,13 persen, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) menguat 2,94 persen, serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 2,82 persen.
Penguatan IHSG dipicu keputusan The Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen, sesuai ekspektasi pasar. Kebijakan tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga lanjutan dan mendorong sentimen investasi pada aset berisiko.
Meski demikian, Panin Sekuritas menilai minat risiko (risk appetite) investor masih terbatas. Sejumlah faktor yang membayangi pasar antara lain pelemahan rupiah, penguatan indeks dolar AS, proses pencalonan Gubernur Bank Indonesia, keterbatasan fiskal pemerintah daerah, siklus pengetatan BI Rate, hingga potensi kenaikan inflasi akibat fenomena El Nino.
“Selain itu, investor juga tetap bersikap hati-hati setelah The Fed mempertahankan sikap kebijakan higher-for-longer setelah memutuskan untuk hold rate di 3,5%–3,75% pada FOMC Juli 2026,” tulis Panin Sekuritas dalam risetnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....