Harga Minyak Terancam Catat Penurunan Kuartalan Terbesar
- 30 Jun 2026 21:31 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Harga minyak dunia diperkirakan mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak pandemi Covid-19. Pelemahan dipicu kembali meningkatnya arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah adanya kemajuan dalam upaya perdamaian, di tengah peringatan Morgan Stanley mengenai potensi kelebihan pasokan di pasar global.
Melansir dari Bloomberg Technoz, kontrak minyak Brent untuk pengiriman September diperdagangkan di kisaran US$74 per barel. Sementara itu, harga kontrak bulan depan telah turun hampir sepertiga sepanjang kuartal ini, menjadi penurunan terbesar sejak 2020. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$70 per barel.
Iran kembali menegaskan komitmennya untuk mengendalikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Meski demikian, arus pelayaran mulai menunjukkan peningkatan untuk pertama kalinya sejak serangan yang sempat mengganggu jalur pelayaran strategis tersebut.
Meningkatnya kembali lalu lintas melalui Selat Hormuz membuat pasokan minyak yang sempat tertahan di kawasan Teluk Persia mulai mengalir ke pasar global. Kondisi ini mendorong tambahan pasokan di tengah upaya pasar menyerap volume minyak yang lebih besar melalui berbagai jalur distribusi alternatif.
Tekanan terhadap pasar juga terlihat dari harga minyak Laut Utara yang ditawarkan dengan diskon terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, harga acuan fisik Dated Brent juga mengalami penurunan tajam.
Morgan Stanley menilai pembukaan kembali Selat Hormuz lebih cepat dari perkiraan telah memperburuk kondisi kelebihan pasokan. Situasi tersebut diperkuat oleh tingginya ekspor minyak Amerika Serikat dan melemahnya impor minyak mentah China.
“Selat Hormuz dibuka kembali lebih cepat dari perkiraan, namun ‘dua faktor penentu’ berupa ekspor AS yang tinggi dan impor China yang rendah tetap berlaku. Hasilnya adalah kelebihan pasokan fisik,” tulis analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats dan Charlotte Firkins.
Bank investasi tersebut bahkan memangkas proyeksi harga minyak acuan fisik untuk kuartal berikutnya sekitar seperenam. Menurut mereka, arus pengiriman melalui Selat Hormuz hanya perlu pulih hingga sekitar 65 persen dari tingkat sebelum konflik untuk menciptakan kondisi kelebihan pasokan di pasar.
Sementara itu, Kepala Investasi Lazard, Eric Van Nostrand, mengatakan sentimen pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh membaiknya kondisi pelayaran di Selat Hormuz dibandingkan faktor lainnya.
“Suasana optimistis seputar lalu lintas di Selat Hormuz yang kini terlihat jauh lebih baik daripada pekan lalu telah membuat banyak orang berspekulasi membeli minyak dengan harga lebih murah,” ujar Van Nostrand dalam wawancara dengan Bloomberg TV
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....