Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.871 per Dolar AS

  • 30 Jun 2026 10:43 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa 30 Juni 2026. Berdasarkan data awal perdagangan, rupiah turun 0,13 persen ke level Rp17.871 per dolar Amerika Serikat (AS), sebelum melanjutkan pelemahan menjadi 0,20 persen ke posisi Rp17.883 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen menjelang rilis data inflasi Indonesia. Berdasarkan survei Bloomberg terhadap 21 ekonom dan analis, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap mampu tumbuh sekitar 5 persen pada 2026, didukung konsumsi masyarakat yang masih terjaga.

Optimisme tersebut turut ditopang kebijakan pemerintah yang menyiapkan paket stimulus dan insentif senilai Rp26,34 triliun guna menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun. Selain itu, konsensus Bloomberg memperkirakan surplus neraca perdagangan periode Mei 2026 meningkat menjadi sekitar US$1,06 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus sebelumnya yang mencapai US$89,1 juta.

Di sisi lain, rupiah masih menghadapi tekanan dari proyeksi defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal yang lebih besar atau dikenal sebagai twin deficits. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan melebar menjadi 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari 2,6 persen pada 2025, meski masih berada di bawah batas maksimal 3 persen.

Pergerakan rupiah juga dipengaruhi indeks dolar AS yang bertahan di kisaran 101,18 terhadap enam mata uang utama dunia. Kondisi tersebut membuat pergerakan mata uang di kawasan Asia bervariasi.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, naik 0,37 persen, diikuti yuan offshore, baht Thailand, dan yuan China. Sebaliknya, won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,47 persen, disusul peso Filipina, yen Jepang, dolar Taiwan, dan dolar Singapura.

Penguatan ringgit didukung arus masuk investasi asing yang mencatat pembelian bersih saham Malaysia sebesar US$13,6 juta pada perdagangan Senin 29 Juni 2026. Sementara itu, pelemahan won dipengaruhi aksi jual investor asing di pasar saham dan obligasi Korea Selatan.

Pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting sepanjang pekan ini. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi pada Rabu 1 Juli 2026, dengan median estimasi sebesar 3,2 persen. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target inflasi Bank Indonesia sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.

Selain inflasi, pasar juga mencermati data perdagangan luar negeri. Berdasarkan konsensus ekonom, ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 4 persen, sedangkan impor diproyeksikan meningkat 18,51 persen. Data-data tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....