Rupiah Melemah 6 Pekan, Cadangan Devisa Tertekan

  • 08 Mei 2026 19:01 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah kembali melemah di akhir perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda tercatat turun 0,18% ke level Rp17.373 per dolar AS, sekaligus memperpanjang tren pelemahan menjadi enam minggu berturut-turut.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, tekanan terhadap rupiah semakin terasa seiring menurunnya cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada April turun sebesar US$1,95 miliar menjadi US$146,2 miliar, level terendah sejak Juli 2024.

Secara kumulatif, cadangan devisa sepanjang kuartal I 2026 telah menyusut US$8,2 miliar. Jika ditambah penurunan pada April, total penyusutan mencapai US$10,27 miliar, mencerminkan tekanan eksternal dan domestik yang terus berlanjut.

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus US$100 per barel turut memperburuk sentimen pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap beban fiskal Indonesia sebagai negara pengimpor energi.

Di sisi lain, indeks dolar AS kembali menguat ke level 98,12. Penguatan dolar ini membuat mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak melemah, termasuk won Korea Selatan, rupee India, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, hingga rupiah.

Sepanjang pekan ini, rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan. Tekanan tidak hanya berasal dari global, tetapi juga faktor domestik seperti kontraksi indeks manufaktur serta penurunan kinerja ekspor.

Kondisi tersebut berdampak pada ketahanan cadangan devisa yang masih sangat bergantung pada aliran modal asing dan utang eksternal. Ketika arus dana asing mulai keluar, tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar.

Data menunjukkan investor asing melakukan aksi jual di pasar obligasi sebesar US$11,5 juta hingga 6 Mei. Sementara di pasar saham, terjadi penjualan bersih senilai US$4,41 juta pada 7 Mei.

Dengan kondisi tersebut, stabilitas rupiah ke depan sangat dipengaruhi oleh dinamika global serta kemampuan menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....