IHSG Anjlok ke 6.900, Rupiah Sentuh Rekor Terendah
- 30 Apr 2026 15:27 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis 30 April 2026. Pada sesi pagi, IHSG sempat menguat hingga menembus level 7.100, namun berbalik melemah saat jeda Sesi I.
Melansir dari Bloomberg Technoz, IHSG tercatat turun 2,46 persen ke level 6.926 pada penutupan sementara sesi pertama. Bahkan, indeks sempat menyentuh level terendah di 6.923 setelah sebelumnya berada di posisi tertinggi 7.109.
Penurunan ini membuat IHSG kembali keluar dari zona psikologis 7.000. Tekanan juga terjadi pada indeks LQ45 yang melemah 2,39 persen ke posisi 667,795.
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah turut tertekan dan melemah 0,52 persen hingga menyentuh level Rp17.380 per dolar Amerika Serikat, yang merupakan level terendah sepanjang sejarah.
Dari sisi transaksi, nilai perdagangan saham hingga siang hari mencapai Rp11,27 triliun dengan volume 23,46 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,55 juta kali transaksi.
Secara keseluruhan, sebanyak 618 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 95 saham yang menguat dan 98 saham lainnya bergerak stagnan.
Tekanan terhadap IHSG terutama datang dari sektor barang baku, perindustrian, dan energi yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 3,76 persen, 3,21 persen, dan 2,77 persen.
Pelemahan pasar saham domestik ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan memerintahkan penasihatnya untuk mempersiapkan perpanjangan blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
Langkah tersebut bertujuan menekan ekspor minyak Iran dengan menghentikan kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran, sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional.
Di sisi lain, Iran disebut membuka peluang kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh pihak Amerika Serikat karena dinilai tidak menunjukkan itikad negosiasi yang baik.
Situasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus di atas 125 dolar Amerika Serikat per barel, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Ketidakpastian tersebut juga tercermin dari sikap The Federal Reserve (The Fed) yang menyoroti perkembangan di Timur Tengah sebagai faktor yang memengaruhi prospek ekonomi, meskipun belum mengubah kebijakan suku bunga secara signifikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....