Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Kemasan Makanan

  • 31 Mar 2026 16:29 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia mulai merasakan dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi geopolitik tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia serta gangguan pasokan gas yang berimbas pada industri kemasan plastik.

Melansir dari Bloomberg Technoz, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyebut kenaikan harga kemasan plastik sudah terasa di pasar dan berdampak langsung pada produk makanan dan minuman siap jual.

Menurut Adhi, harga kemasan plastik bahkan mengalami kenaikan signifikan hingga 50–60 persen di pasar ritel. Kondisi ini membuat pelaku industri mamin harus menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin besar.

"Ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan kemasan plastik. Nah ini yang mengakibatkan harga melonjak dan di pasar, khususnya pasar ritel, itu untuk yang kemasan-kemasan yang siap jual itu kenaikan bisa bahkan 50-60%," ujar Adhi saat dihubungi, Selasa 31 Maret 2026.

Ia menjelaskan kenaikan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku plastik dari wilayah Timur Tengah yang selama ini menjadi pemasok utama industri hulu plastik dunia.

Beberapa jenis bahan baku yang terdampak antara lain Polietilena (PE), Polipropilena (PP), hingga Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE). Bahkan sejumlah produsen dilaporkan telah menurunkan kapasitas produksi hingga sekitar 30 persen dari produksi normal harian.

"Dan yang lebih berat lagi sebenarnya ketersediaannya. Ada beberapa produsen yang sudah menyatakan tidak bisa, tidak sanggup memasok karena tidak ada bahan baku plastiknya," tutur Adhi.

Melihat kondisi tersebut, Gapmmi meminta pemerintah segera mencari solusi guna menjaga keberlangsungan industri plastik yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi makanan dan minuman.

Adhi berharap pemerintah dapat memfasilitasi negosiasi antara industri hulu dan hilir agar tekanan biaya produksi tidak semakin membebani pelaku usaha.

"Saya berharap pemerintah bisa segera cari solusi yang terbaik. Salah satu yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana kita negosiasi, mengatur industri hulu dan hilir harus kompak, tidak perlu berjalan sendiri-sendiri yang akan mempersulit situasi," katanya.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian juga menyoroti potensi dampak konflik geopolitik terhadap sektor industri mamin, khususnya dari sisi bahan baku kemasan plastik yang sangat bergantung pada produk turunan minyak bumi dan gas alam.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardhika mengatakan kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya logistik sekaligus menekan biaya produksi industri makanan dan minuman.

"Sebenarnya, yang banyak ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Jadi kemasannya itu biasanya dari plastik. Nah plastik ini adalah plastik petroleum based plastik," kata Putu.

Ia menambahkan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan harga kemasan adalah industri minuman dalam kemasan, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK).

Menurutnya, biaya kemasan dalam produk tersebut bahkan bisa lebih mahal dibandingkan isi produknya apabila harga bahan baku plastik terus mengalami kenaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....