Rupiah Dibuka Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak

  • 31 Mar 2026 10:48 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan hari ini dengan tekanan yang masih terasa. Mata uang Garuda bergerak melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Melansir dari Bloomberg Technoz, Selasa 31 Maret 2026, rupiah pada awal perdagangan sempat menguat tipis hampir stagnan 0,01% di level Rp16.990 per dolar AS setelah pada penutupan sebelumnya melemah 0,16%. Namun tak lama kemudian rupiah kembali bergerak melemah sekitar 0,02%.

Pelemahan mata uang di kawasan Asia salah satunya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, berada dalam tekanan.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama juga masih bertahan di level 100,36. Kondisi ini menunjukkan dolar tetap menjadi aset aman atau safe haven bagi investor ketika ketidakpastian global meningkat.

Pergerakan mata uang Asia sendiri cenderung bervariasi pada pagi ini. Peso Filipina, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, dan ringgit Malaysia tercatat menguat tipis. Sementara won Korea Selatan, dolar Taiwan, serta yen Jepang justru mengalami pelemahan.

Lonjakan harga minyak mentah turut menjadi perhatian karena berpotensi menekan neraca eksternal Indonesia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 3,4% hingga melampaui US$106 per barel, sedangkan minyak Brent berada di kisaran US$112 per barel.

Angka tersebut jauh melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 yang berada di level US$70 per barel. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal negara, terutama terkait kebutuhan subsidi energi.

Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi domestik membuat kenaikan harga energi dapat memberikan dampak ganda. Tidak hanya memengaruhi stabilitas fiskal, tetapi juga berisiko menggerus daya beli masyarakat apabila harga energi ikut mengalami penyesuaian.

Sejumlah rumor bahkan menyebutkan adanya potensi kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah. Jika benar terjadi, kenaikan harga energi diperkirakan akan berdampak pada konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....