Rupiah Melemah ke Rp16.992/US$ Tertekan Harga Minyak

  • 30 Mar 2026 19:33 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini bergerak melemah, menyusul ketidakstabilan geopolitik yang terus terjadi dan harga minyak mentah yang meningkat tajam.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, rupiah spot sore ini, Senin (30/3/2026), ditutup melemah 0,16% ke Rp16.992/US$, seiring harga minyak brent menembus US$116 per barel dan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama bertahan di level 100. Pergerakan ini menunjukkan posisi dolar AS sebagai aset aman kian diperkuat di tengah ketidakpastian global.

“Lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik memberi tekanan nyata terhadap rupiah, namun dibanding negara Asia lainnya posisi rupiah relatif masih stabil,” kata analis valuta asing senior, Iwan Santoso.

Mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah, dengan won Korea Selatan melemah paling dalam, disusul ringgit Malaysia dan dolar Taiwan. Sebaliknya, yen Jepang, rupee India, dan baht Thailand menunjukkan penguatan tipis.

Para analis memperingatkan, meski rupiah belum menembus level psikologis Rp17.000/US$, risiko arus modal keluar tetap membayangi, terutama di tengah penguatan dolar AS, yang dapat menekan likuiditas pasar domestik.

Lonjakan harga minyak mentah global memberi tekanan tambahan terhadap inflasi di kawasan Asia, termasuk Indonesia, dan berdampak pada pelemahan rupiah.

Harga minyak brent hari ini menembus US$116 per barel, memaksa bank sentral negara-negara Asia mempertimbangkan kebijakan moneter lebih ketat. Rupiah sore ini melemah 0,16% ke Rp16.992/US$, sementara mata uang lain di kawasan juga berada di zona merah.

Insert Narsum: “Kenaikan biaya energi dan pupuk berpotensi mendorong inflasi pangan, dan dampak terhadap rupiah harus diawasi secara ketat,” jelas ekonom senior dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Wijaya.

Tekanan eksternal akibat penguatan dolar AS dipadukan dengan risiko inflasi impor dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik. Kondisi ini membuat rupiah relatif stabil dibanding negara Asia lain yang lebih bergantung pada impor minyak, namun kewaspadaan pasar tetap diperlukan.

Para analis menekankan, efek harga minyak tidak hanya menekan nilai tukar, tetapi juga bisa memengaruhi defisit fiskal dan harga pangan dalam beberapa bulan mendatang, memperpanjang tekanan inflasi di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....