Rupiah Menguat, Dolar Ambruk Jelang Keputusan The Fed

  • 28 Jan 2026 07:38 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan tren penguatan, menyusul melemahnya dolar AS di tengah ekspektasi pasar terhadap penahanan suku bunga acuan The Fed yang akan diumumkan pada Rabu 28 Januari 2026 pukul 15.00 waktu setempat.

Dalam perdagangan spot Selasa 27 Januari 2026, rupiah ditutup menguat 0,08% ke posisi Rp16.766 per dolar AS. Penguatan rupiah terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang juga bergerak menguat.

Melansir dari Bloomberg Technoz, pasar saat ini mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Gubernur The Fed Jerome ‘Jay’ Powell bersama pejabat lainnya diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat FOMC, seiring kondisi pasar tenaga kerja AS yang dinilai masih stabil.

Sejumlah pejabat The Fed, termasuk yang dekat dengan Powell, menilai tingkat suku bunga saat ini—setelah tiga kali pemangkasan beruntun tahun lalu—telah berada di kisaran netral. Level tersebut dianggap cukup untuk menopang ketenagakerjaan sekaligus menjaga tekanan penurunan inflasi.

Namun, keputusan menahan suku bunga tersebut berpotensi memicu reaksi Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya berulang kali mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga secara lebih agresif.

Investor di pasar obligasi pemerintah AS senilai US$30 triliun telah menyesuaikan posisi mereka untuk menghadapi periode penahanan suku bunga yang lebih panjang. Kontrak swap menunjukkan pemangkasan suku bunga berikutnya baru diperkirakan terjadi pada Juli tahun ini, dengan peluang tambahan menjelang akhir tahun. Bahkan, sejumlah bank besar Wall Street menggeser proyeksi pemangkasan ke paruh kedua 2026 atau tidak ada sama sekali.

Di sisi lain, pasar juga menunggu pernyataan Powell terkait durasi kebijakan suku bunga tinggi dan faktor yang dapat mendorong perubahan arah kebijakan ke pelonggaran moneter. Tekanan politik yang semakin kuat turut menempatkan kebijakan The Fed dalam situasi yang tidak biasa. Meski demikian, mayoritas pejabat bank sentral AS menilai belum ada urgensi untuk mengubah arah kebijakan dalam waktu dekat.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia (BI) pasca pengangkatan Deputi Gubernur BI yang baru. Perubahan struktur pimpinan ini terjadi di tengah fase penting stabilisasi nilai tukar dan penyesuaian bauran kebijakan moneter-makroprudensial.

Bagi pasar, penguatan rupiah saat ini lebih banyak ditopang sentimen global, terutama pelemahan dolar AS dan meredanya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat ruang penguatan rupiah masih rentan terhadap perubahan sikap The Fed, khususnya jika Powell menyampaikan pernyataan bernada hawkish.

Di level domestik, BI masih menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan inflasi yang relatif terkendali dan defisit transaksi berjalan yang masih terjaga, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih bersifat eksternal. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan dan komunikasi yang kuat dari BI menjadi kunci menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....