Ekonomi Indonesia Akhir 2025 Masih Serba Tanggung

  • 13 Des 2025 21:01 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Indonesia memasuki akhir tahun 2025 dengan kondisi ekonomi yang menunjukkan dua sisi berbeda. Secara makro, kinerja ekonomi nasional masih mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil. Namun, di balik angka tersebut, tekanan terhadap konsumsi rumah tangga, khususnya kelas menengah, belum sepenuhnya mereda.

Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 tercatat sebesar 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang tiga kuartal 2025 berada di level 5,01 persen, mencerminkan stabilitas kinerja ekonomi secara umum.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, sejumlah indikator menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi tersebut belum sepenuhnya solid. Salah satu sinyal paling nyata terlihat dari sektor otomotif. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merevisi target penjualan mobil tahun 2025 dari 900 ribu unit menjadi 780 ribu unit, seiring anjloknya penjualan mobil hingga 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan penjualan kendaraan bermotor ini dinilai mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat, terutama pada kelompok kelas menengah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi yang ada masih bersifat teknis dan belum sepenuhnya didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat.

Tekanan pada konsumsi juga tercermin dalam data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan masih menjadi penopang utama optimisme ekonomi, dengan tingkat keyakinan terhadap penghasilan, pembelian barang tahan lama, serta ekspektasi ekonomi enam bulan ke depan yang relatif tinggi.

Sebaliknya, kelompok pengeluaran menengah dan menengah bawah justru mengalami penurunan keyakinan. Kelompok dengan pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta per bulan mencatatkan penurunan paling dalam pada sejumlah indikator, seperti Indeks Kondisi Ekonomi (IKE), Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), serta Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG).

Kondisi serupa juga terlihat pada Indeks Penjualan Riil (IPR), khususnya pada kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang mencatatkan penurunan sebesar 8,3 persen. Melemahnya penjualan barang-barang non-esensial ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mem


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....