Pertumbuhan Ekonomi Mimika Turun Signifikan, Minus 11,33 Persen

  • 01 Jul 2026 11:37 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mimika pada triwulan I tahun 2026 mengalami kontraksi sebesar minus 11,33 persen. Kondisi tersebut dipicu oleh penurunan produksi di PT Freeport Indonesia (PTFI), yang selama ini menjadi sektor dominan dalam struktur perekonomian daerah.

Kepala BPS Mimika, Dian Sudarmanto, menjelaskan bahwa perekonomian Mimika masih sangat bergantung pada sektor pertambangan yang memberikan kontribusi lebih dari 80 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Menurutnya, setiap penurunan produksi di sektor tersebut akan memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

"Kalau tidak salah ingat, pertumbuhan ekonomi Mimika berada di kisaran minus 11,33 persen. Pertumbuhan yang negatif ini sebenarnya disebabkan oleh adanya penurunan produksi di PT Freeport Indonesia. Struktur perekonomian Mimika didominasi sektor pertambangan dengan kontribusi di atas 80 persen, sehingga ketika produksinya turun, dampaknya langsung terasa terhadap perekonomian Kabupaten Mimika," ujar Dian.

Ia menjelaskan, penurunan produksi pertambangan tidak hanya berdampak pada sektor tersebut, tetapi juga memengaruhi sektor lain yang memiliki keterkaitan, seperti konstruksi, perdagangan, hingga pendapatan masyarakat. Menurunnya aktivitas produksi menyebabkan berkurangnya pendapatan pekerja yang pada akhirnya berdampak pada daya beli masyarakat.

BPS Mimika menemukan bukti pendukung melalui laporan pendapatan triwulanan PT Freeport Indonesia yang dipublikasikan kepada publik. Berdasarkan data tersebut, produksi emas pada periode Januari hingga Maret 2026 mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pada Januari sampai Maret 2025, produksi emas mencapai sekitar 284 ribu ons, sedangkan pada periode yang sama tahun 2026 hanya sekitar 92 ribu ons. Penurunan yang sangat signifikan inilah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Mimika turun hingga minus 11,33 persen," jelasnya.

Meski demikian, Dian mengatakan tidak seluruh sektor mengalami perlambatan. Sejumlah lapangan usaha masih menunjukkan pertumbuhan positif pada triwulan I 2026, di antaranya sektor pertanian yang tumbuh sekitar 1,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya, industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, serta perdagangan besar dan eceran.

Menurut Dian, secara agregat penurunan tajam pada sektor pertambangan membuat pertumbuhan sektor-sektor lainnya belum mampu mengimbangi besarnya kontraksi yang terjadi. Karena kontribusi pertambangan sangat dominan, penurunan sekitar 13 persen pada sektor tersebut langsung menekan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mimika secara keseluruhan.

Lebih lanjut, Dian mengungkapkan bahwa perlambatan ekonomi berpotensi memengaruhi berbagai indikator ekonomi lainnya, seperti daya beli masyarakat, konsumsi rumah tangga, pendapatan pelaku usaha, hingga penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Sebab, pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu komponen dalam perhitungan penyesuaian UMK bersama dengan tingkat inflasi.

"Kalau sampai akhir tahun pertumbuhan ekonomi masih negatif, bisa saja UMK tahun depan tidak mengalami kenaikan. Namun, kondisi tersebut masih bergantung pada pemulihan produksi PT Freeport Indonesia. Kami berharap produksinya segera pulih karena sangat berpengaruh terhadap perekonomian Mimika," pungkasnya.(Sandra)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....