BGN dan JICA Kembangkan Pilot MBG Berbasis Shokuiku Jepang
- 30 Sep 2026 16:46 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan gagasan MBG-JICA Pilot untuk mengeksplorasi penerapan pendekatan shokuiku dalam memperkaya pengalaman Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dilansir dari website Badan Gizi Nasional, pendekatan shokuiku mengadaptasi pengalaman Jepang dalam mengintegrasikan pendidikan pangan dan gizi dengan penyelenggaraan makan di sekolah. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis siswa dalam mengenal makanan dan gizi.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan pembelajaran dari Jepang dapat menjadi salah satu referensi untuk memperkaya pengalaman siswa dalam pelaksanaan MBG.
“Melalui kolaborasi ini, kami melihat bagaimana pendekatan shokuiku dapat memperkaya pengalaman anak dalam mengikuti program makan di sekolah. Jadi, makanan bukan hanya diterima dan dikonsumsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya,” ujar Prima, pada 23 September 2026.
Dalam rancangan MBG-JICA Pilot, terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian untuk dikaji. Di antaranya pengurangan sampah dan sisa makanan, peningkatan proses pengiriman dan penyajian makanan, penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, serta pendidikan pangan dan gizi.
Pilot tersebut dirancang melalui dua komponen yang saling melengkapi, yakni Shokkan Trial di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kegiatan Shokuiku di tingkat sekolah. Shokkan Trial diarahkan pada pengalaman di tingkat penyediaan layanan makanan, sedangkan Shokuiku Activities memberikan ruang untuk memperkuat pengalaman siswa dalam memahami makanan dan gizi.
Menurut Prima, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh dengan menghubungkan proses penyediaan makanan di SPPG dengan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat MBG.
“Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi,” kata Prima.
Pengembangan MBG-JICA Pilot juga membuka ruang untuk mengkaji keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah. Aspek yang diperhatikan mencakup pengalaman siswa saat makan, pemahaman mengenai makanan yang dikonsumsi, serta kesadaran terhadap proses dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan sekolah.
Prima mengatakan pengalaman dari Jepang diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan MBG dengan mempertimbangkan konteks Indonesia. Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta didik mengenai pangan dan gizi melalui pengalaman makan di sekolah.
“Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi,” tutur Prima.
Melalui kolaborasi dengan JICA, BGN membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman dalam pengembangan MBG. Kajian tersebut mencakup penyelenggaraan layanan makanan sekaligus penguatan pendidikan pangan dan gizi bagi peserta didik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....