Aktivis Pariwisata Aceh Kritik pengelolaan Destinasi Wisata Aceh Selatan
- 09 Jun 2026 23:43 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Tapaktuan – Aktivis pariwisata Aceh, Tonicko Anggara, menyoroti pengelolaan destinasi wisata di Kabupaten Aceh Selatan setelah mendampingi wisatawan asal Swiss mengunjungi sejumlah objek wisata di daerah tersebut. Kritik tersebut terutama terkait persoalan kebersihan kawasan wisata dan minimnya dukungan fasilitas pendukung bagi wisatawan.
Tonicko mengatakan, kunjungan wisata bersama wisatawan mancanegara itu dilakukan pada Minggu, 7 Juni 2026. Rombongan mengawali perjalanan dengan aktivitas selancar di kawasan Surfing Cafe Samadua yang dikenal memiliki potensi ombak menarik bagi peselancar.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata Pasir Putih yang berada di perbatasan Kecamatan Samadua dan Kecamatan Sawang untuk menikmati panorama matahari terbenam.
Menurut Tonicko, keindahan alam Aceh Selatan mendapat apresiasi dari wisatawan asing. Namun, kondisi kebersihan di sejumlah lokasi wisata dinilai masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Saya merasa malu ketika membawa wisatawan asing ke sana. Tempatnya indah dan pemandangannya luar biasa, tetapi sampah plastik masih berserakan di beberapa lokasi,” kata Tonicko, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia mengungkapkan, wisatawan yang didampinginya juga menyampaikan kesan serupa. Mereka menilai Aceh Selatan memiliki potensi wisata yang besar, namun masih membutuhkan pembenahan dari sisi kebersihan dan penataan kawasan.
“Wisatawan tersebut mengakui pantai dan alam Aceh Selatan sangat indah. Namun mereka juga menyoroti banyaknya sampah dan kondisi beberapa lokasi yang dinilai kurang terawat,” ujarnya.
Tonicko menilai persoalan tersebut memerlukan perhatian bersama, termasuk melalui koordinasi yang lebih kuat antarinstansi pemerintah. Menurutnya, meskipun kebersihan bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata, instansi tersebut memiliki peran strategis dalam mendorong kolaborasi lintas sektor.
Ia berharap Dinas Pariwisata dapat memperkuat koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun instansi terkait lainnya guna menjaga kebersihan dan kenyamanan destinasi wisata.
Selain masalah kebersihan, Tonicko juga menyoroti keterbatasan layanan transportasi bagi wisatawan yang ingin mengunjungi berbagai objek wisata di Aceh Selatan. Berdasarkan pengalamannya mendampingi wisatawan asing, akses informasi mengenai transportasi lokal masih sangat terbatas.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu menghadirkan pusat informasi atau layanan khusus yang memudahkan wisatawan memperoleh akses transportasi menuju destinasi wisata.
“Setidaknya tersedia nomor kontak atau layanan informasi yang dapat dihubungi wisatawan ketika membutuhkan kendaraan menuju lokasi wisata. Hal ini akan sangat membantu pengunjung,” katanya.
Ia juga menilai pengembangan sektor pariwisata tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, serta instansi yang menangani infrastruktur menjadi faktor penting dalam mendukung kenyamanan wisatawan.
“Pariwisata membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Akses jalan, kebersihan, transportasi, hingga fasilitas pendukung harus dipersiapkan secara terpadu agar destinasi wisata benar-benar siap menerima kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Tonicko menegaskan, kritik yang disampaikannya merupakan bentuk kepedulian terhadap kemajuan sektor pariwisata Aceh Selatan. Ia berharap pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi dan memperkuat upaya pembenahan agar potensi wisata yang dimiliki mampu memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....