Tak Semua yang Viral Benar, Wakil I Raja Baca Ajak Anak Muda Rajin Membaca
- 25 Jul 2026 15:53 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial membawa tantangan baru bagi generasi muda. Di balik derasnya konten yang terus bermunculan setiap hari, masyarakat dituntut lebih cermat dalam memilah informasi agar tidak mudah mempercayai kabar yang belum terbukti kebenarannya.
Wakil I Raja Baca Kabupaten Aceh Barat, Fadhil Al-Iqbal, mengatakan rendahnya budaya membaca membuat sebagian anak muda cenderung menerima informasi begitu saja hanya karena sedang viral atau menjadi perbincangan di media sosial. Padahal, informasi yang ramai dibicarakan belum tentu berasal dari sumber yang kredibel.
"Dalam lingkungan saya, ketika ada informasi baru, banyak yang langsung percaya. Saat ditanya apakah sudah dipastikan benar atau hanya hoaks, jawabannya sering karena informasinya sedang trending," ujar Fadhil saat menjadi narasumber Program Sore Ceria RRI Pro 2 Meulaboh.
Menurutnya, kebiasaan membaca berperan penting dalam membentuk pola pikir kritis sehingga seseorang tidak mudah mengambil kesimpulan tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Ia mengajak generasi muda untuk membiasakan mencari sumber resmi sebelum membagikan informasi kepada orang lain.
Fadhil juga menyoroti fenomena bergesernya kebiasaan membaca di kalangan anak muda. Saat ini, banyak orang mengaku gemar membaca, tetapi lebih sering menghabiskan waktu membaca komentar di media sosial atau mengikuti konten yang sedang viral dibandingkan membaca buku maupun referensi yang dapat menambah wawasan.
"Kalau hanya membaca komentar, apalagi komentar negatif, makna membaca yang sesungguhnya mulai bergeser. Membaca seharusnya memberikan pengetahuan dan membantu kita memahami sesuatu dengan lebih baik," katanya.
Meski perkembangan teknologi menghadirkan kemudahan melalui buku digital atau e-book, Fadhil menilai buku fisik masih memiliki keunggulan karena mampu membantu pembaca lebih fokus. Ia mengaku notifikasi telepon genggam kerap menjadi gangguan yang membuat seseorang kehilangan konsentrasi saat membaca secara digital.
Untuk membangun kebiasaan membaca, Fadhil menyarankan masyarakat tidak perlu memulai dengan target yang berat. Ia menyebut membaca selama 10 hingga 20 menit setiap hari sudah cukup untuk membentuk kebiasaan, asalkan dilakukan secara konsisten. Selain itu, memilih buku sesuai minat juga dapat meningkatkan rasa penasaran sehingga aktivitas membaca terasa lebih menyenangkan.
Menurutnya, manfaat membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga berpengaruh terhadap kemampuan mengambil keputusan. Ia merasakan sendiri perubahan cara berpikir setelah membiasakan diri membaca. Jika sebelumnya cenderung mengambil keputusan secara spontan, kini ia lebih mempertimbangkan dampak dan efektivitas dari setiap pilihan yang diambil.
Di akhir dialog, Fadhil mengajak generasi muda Aceh Barat untuk mulai membangun budaya membaca sejak sekarang. Ia meyakini kebiasaan sederhana tersebut akan membantu menciptakan generasi yang lebih kritis, bijak menyikapi informasi, dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai kabar yang beredar di ruang digital.
"Mulailah dari buku yang disukai dan baca 10 sampai 20 menit setiap hari. Yang terpenting adalah konsisten, karena dari kebiasaan kecil itulah budaya membaca akan tumbuh," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....