Universitas Teuku Umar Kenalkan Riset Mangrove kepada Pelajar

  • 01 Okt 2026 12:13 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Universitas Teuku Umar (UTU) mengenalkan ekosistem mangrove, penelitian lingkungan pesisir, serta konsep karbon biru kepada pelajar melalui program Mangrove Generation: Inkubasi Saintis Muda melalui Pengalaman Riset, Restorasi Mangrove, dan Karbon Biru Berbasis Living Laboratory Pesisir Aceh.

Program tersebut merupakan bagian dari Titik Kumpul Sains dan Teknologi (Saintek) di Perguruan Tinggi Tahun Anggaran 2026. UTU menjadi satu-satunya perguruan tinggi dari Aceh yang lolos pendanaan nasional program tersebut.

Kegiatan melibatkan siswa SMK Negeri 1 Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, sebagai peserta. Para pelajar diperkenalkan dengan ekosistem mangrove melalui pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan di kelas, pengalaman lapangan, serta pengenalan fasilitas penelitian di lingkungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UTU.

Ketua Pelaksana Mangrove Generation, Eka Lisdayanti, S.Kel., M.Si., mengatakan program tersebut dirancang untuk mendekatkan pelajar dengan dunia sains melalui pengalaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.

Menurutnya, kawasan pesisir Samatiga dapat menjadi ruang belajar bagi siswa untuk memahami ekosistem mangrove secara langsung.

“Hutan mangrove Samatiga bukan sekadar benteng abrasi, melainkan ruang belajar kaya ilmu. Di sana, para siswa belajar memetakan karbon biru, mengukur biomassa, dan memahami isu perubahan iklim global secara akurat dari hamparan lumpur pesisir tempat mereka tumbuh,” ujar Eka.

Pelajar Dikenalkan dengan Riset Mangrove

Dalam program tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai mangrove sebagai vegetasi yang tumbuh di kawasan pasang surut. Mereka juga dikenalkan dengan fungsi mangrove sebagai bagian penting dari ekosistem pesisir.

Mangrove menyediakan habitat dan daerah asuhan bagi berbagai organisme perairan. Ekosistem tersebut juga berperan dalam melindungi garis pantai dari tekanan gelombang dan abrasi.

Salah satu materi yang diperkenalkan adalah karbon biru atau blue carbon, yakni karbon yang tersimpan pada ekosistem pesisir dan laut, termasuk mangrove.

Melalui materi tersebut, siswa diajak memahami hubungan antara kondisi ekosistem mangrove, penyimpanan karbon, perubahan iklim, serta keberlanjutan kawasan pesisir.

Belajar Menjadi Saintis Muda

Konsep living laboratory menjadi salah satu pendekatan utama dalam Mangrove Generation.

Melalui pendekatan tersebut, lingkungan pesisir tidak hanya dipandang sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan penelitian.

Pelajar didampingi dosen dan peneliti UTU untuk melakukan pengamatan serta pengumpulan data di lapangan. Kegiatan tersebut mencakup pengenalan pemetaan kawasan, pengukuran biomassa vegetasi, hingga penghitungan potensi karbon biru pada ekosistem pesisir.

Para peserta juga diperkenalkan dengan kegiatan pembibitan dan penanaman kembali vegetasi pantai sebagai bagian dari upaya pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan.

Kegiatan lapangan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman kepada siswa mengenai bagaimana suatu persoalan lingkungan dapat diamati, diukur, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan ilmiah.

Kenalkan Laboratorium FPIK UTU

Selain kegiatan di kawasan pesisir, peserta juga diperkenalkan dengan fasilitas penelitian yang dimiliki FPIK Universitas Teuku Umar.

Siswa mendapatkan gambaran mengenai kegiatan laboratorium, penggunaan peralatan penelitian, pengamatan sampel, serta pentingnya ketelitian dalam proses penelitian.

Pembelajaran tersebut menjadi jembatan antara pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan aktivitas penelitian di perguruan tinggi.

Dengan demikian, pelajar tidak hanya diperkenalkan pada teori mengenai mangrove, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai profesi dan bidang keilmuan yang berkaitan dengan perikanan, kelautan, lingkungan, serta penelitian.

Dorong Literasi Sains dan Kepedulian Pesisir

Eka Lisdayanti menjelaskan, program Mangrove Generation diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan literasi sains generasi muda.

Pengalaman langsung di lapangan juga diharapkan mendorong pelajar memahami bahwa lingkungan di sekitar mereka dapat menjadi sumber pembelajaran dan penelitian.

Keterlibatan siswa dalam kegiatan pengamatan mangrove dan karbon biru juga diarahkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim dan keberlanjutan kawasan pesisir.

Program ini sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah melalui pembelajaran sains yang kontekstual.

Mendukung Pencapaian SDGs

Program Mangrove Generation memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).

Pada SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, kegiatan memberikan pengalaman pembelajaran sains secara kontekstual kepada pelajar.

Sementara SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim diperkuat melalui pengenalan karbon biru dan peran mangrove dalam menyimpan karbon.

Selanjutnya, SDG 14 tentang Ekosistem Lautan tercermin melalui edukasi mengenai fungsi mangrove dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Adapun SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam pengembangan literasi sains dan pendidikan lingkungan.

Program Titik Kumpul Saintek sendiri merupakan bagian dari skema SEMESTA (Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara) yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Skema ini mendorong perguruan tinggi untuk mendampingi pembentukan dan pengembangan klub sains inklusif di sekolah melalui kegiatan yang kontekstual dan berkelanjutan.

UTU Jadi Satu-satunya Perguruan Tinggi dari Aceh

Program Mangrove Generation merupakan salah satu program yang mengantarkan Universitas Teuku Umar lolos dalam pendanaan nasional Titik Kumpul Saintek 2026.

Berdasarkan pengumuman Kemdiktisaintek, proses seleksi program tersebut melalui sejumlah tahapan, termasuk seleksi Expression of Interest (EoI) dan penyusunan proposal lengkap.

Publikasi Kemdiktisaintek menyebutkan UTU berada di antara 16 perguruan tinggi yang dinyatakan lolos pada program tersebut. Tim UTU diketuai Eka Lisdayanti dari Program Studi Sumber Daya Akuatik FPIK UTU.

Melalui Mangrove Generation, UTU berupaya menjadikan kawasan pesisir Aceh Barat sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal sains, penelitian, konservasi, dan isu perubahan iklim.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat literasi sains pelajar, tetapi juga menumbuhkan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir Aceh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....