Sebanyak 144 Peserta Ikuti Wawancara Program Kerja dan Magang ke Jepang

  • 28 Sep 2026 20:32 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Sebanyak 144 peserta mengikuti tahapan wawancara program kerja dan magang ke Jepang yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) di Aula Distransnaker Aceh Barat, Senin, 28 September 2026. Seluruh peserta tetap diberikan kesempatan mengikuti tahapan wawancara meskipun hasil tes tertulis belum memenuhi standar kelulusan.

Kepala Distransnaker Aceh Barat, Abdullah, mengatakan, peserta yang nantinya dinyatakan lolos akan mengikuti pelatihan bahasa Jepang yang direncanakan mulai awal Oktober 2026.

“Untuk tahun ini kita melakukan persiapan, termasuk pelatihan bahasa Jepang. Pelatihannya direncanakan mulai awal Oktober, sedangkan untuk keberangkatan kemungkinan besar dilakukan tahun depan,” katanya.

Kepala Bidang Tenaga Kerja Distransnaker Aceh Barat, Aryo Brotoseno N SSi, menambahkan, dari 220 berkas pendaftaran yang masuk, sebanyak 190 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi.

“Dari jumlah tersebut, 144 peserta mengikuti tes tertulis sebagai bagian dari proses penjaringan calon peserta pelatihan. Namun, kita memutuskan tidak melakukan eliminasi berdasarkan hasil tes tertulis untuk menjaga semangat peserta,” ujar Aryo.

Menurutnya, jika batas nilai kelulusan diterapkan secara ketat, sekitar 50 peserta berpotensi langsung gugur pada tahapan tes tertulis.

Karena itu, seluruh peserta diberikan kesempatan mengikuti wawancara untuk melihat kesiapan, kesungguhan dan komitmen mereka dalam mengikuti program kerja dan magang ke Jepang.

“Dari hasil tes tertulis dan wawancara, kita akan memilih 70 peserta untuk mengikuti psikotes. Dari tahapan tersebut nantinya ditargetkan terpilih 50 peserta yang dinilai siap mengikuti pelatihan,” katanya.

Aryo menjelaskan, selain kemampuan akademik, proses seleksi juga mempertimbangkan karakter dan sikap calon peserta, termasuk kedisiplinan, sopan santun, tata krama dan kemampuan beradaptasi dengan budaya Jepang.

“Yang kita lihat bukan hanya kemampuan, tetapi juga kedisiplinan, tata krama, sikap dan kesiapan peserta mengikuti aturan selama pelatihan maupun ketika berada di Jepang,” ucapnya.

Untuk mendukung pembentukan kedisiplinan peserta, DistransnakerAceh Barat juga membuka kemungkinan melibatkan unsur lain dalam proses pembinaan.

“Kita akan menggunakan bantuan dari pihak lain, mungkin TNI-Polri atau teman-teman dari IPDN, untuk membantu pembinaan kedisiplinan peserta,” ujar Aryo.

Aryo menambahkan, peluang keberangkatan paling awal diperkirakan tersedia bagi peserta pada bidang tertentu, seperti perawatan lansia dan pertanian.

“Untuk keberangkatan, paling cepat kemungkinan pada Februari atau Maret, tergantung hasil ujian dan kebutuhan perusahaan. Kalau perusahaan membutuhkan dan peserta sudah memenuhi persyaratan, bisa saja langsung diberangkatkan,” ucapnya.

Salah seorang peserta, Maulaya, asal Drien Rampak, Aceh Barat, mengatakan, dirinya mengikuti program tersebut karena ingin memperoleh pengalaman kerja di Jepang.

“Saya memang sudah punya tujuan untuk bekerja di Jepang. Saat ini saya juga sudah bekerja dan sudah menabung untuk rencana bekerja di sana. Ketika ada program dari Aceh Barat ini, kesempatan tersebut tidak boleh saya lewatkan,” ujar Maulaya.

Ia mengatakan, pertanyaan dalam wawancara lebih banyak berkaitan dengan kesiapan dan tanggung jawab peserta mengikuti seluruh tahapan program.

“Pertanyaannya lebih kepada persiapan kita, apakah betul-betul siap mengikuti program ini dan bisa bertanggung jawab. Kalau nanti lulus, tentu yang dituntut adalah keseriusan kita mengikuti program sampai selesai,” katanya.

Maulaya berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan tidak berhenti pada satu periode.

“Harapannya saya bisa lulus dan program ini bisa terus dilanjutkan ke depannya. Bukan hanya program magang, tetapi juga membuka kesempatan untuk benar-benar bekerja di Jepang,” ucapnya.

Peserta lainnya, Rahmat Fikri, asal Pulau Tengah, Aceh Barat, mengatakan, dirinya memilih program tersebut untuk mengembangkan karier di bidang teknik otomotif.

“Saya memilih Jepang untuk mengembangkan karier di bidang otomotif,” katanya.

Rahmat menilai, wawancara yang diikutinya juga memberikan motivasi agar calon peserta mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Jepang.

“Pesan yang saya dapat, sebelum berangkat ke Jepang kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Setelah sampai di sana juga harus mengikuti budaya mereka, menjaga sopan santun dan tetap ramah,” ujarnya.

Program kerja dan magang ke Jepang tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Aceh Barat membuka akses peningkatan kompetensi sekaligus kesempatan kerja bagi generasi muda di daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....