Gubernur Aceh Minta Warga Waspadai Bencana Hidrometeorologi
- 15 Sep 2026 23:37 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) meminta masyarakat dan seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim hujan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Tengah pada 13–14 September 2026.
“Bencana hidrometeorologi yang terjadi setahun lalu membuat tanah di kawasan bencana belum kokoh dan labil,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi di Banda Aceh, Senin, 14 September 2026.
Nurlis mengatakan, Gubernur Aceh telah menerima laporan terkait bencana banjir dan longsor dalam dua hari terakhir berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).
Bencana pertama terjadi di Kabupaten Gayo Lues pada Minggu, 13 September 2026 siang. Banjir melanda Desa Badak dan Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, sementara tanah longsor terjadi di Kecamatan Putri Betung.
Material longsor menutup ruas jalan Blangkejeren–Kutacane sehingga tidak dapat dilalui. Banjir juga menyebabkan sejumlah rumah warga terendam.
Petugas bersama pihak terkait telah melakukan pembersihan material longsor menggunakan alat berat. Pendataan dampak bencana dan koordinasi dengan unsur terkait juga dilakukan untuk mempercepat pembukaan kembali akses jalan.
Banjir kemudian melanda Kabupaten Aceh Tenggara pada Minggu malam. Bencana tersebut berdampak pada 12 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Babussalam, Lawe Sigala-gala, Semadam, Bukit Tusam, dan Babul Makmur.
Banjir menyebabkan sejumlah rumah warga terendam lumpur, jembatan terdampak, tanggul jebol, serta mengganggu akses jalan dan fasilitas umum.
| Baca juga: Pemkab Simeulue Peringati Hardikda ke- 67 |
“BPBD Aceh Tenggara bersama aparat gampong dilaporkan telah melakukan pendataan, evakuasi warga, serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut,” kata Nurlis.
Sementara itu, longsor terjadi di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, pada Senin dini hari. Bencana tersebut menyebabkan 13 orang luka-luka dan satu orang meninggal dunia.
Seluruh korban luka telah mendapat perawatan di RSUD Datu Beru. Selain itu, empat rumah terdampak dan akses jalan tertutup material longsor.
Upaya evakuasi korban dan pembersihan material longsor telah dilakukan. Petugas juga terus memantau kondisi wilayah dan melakukan pendataan dampak bencana.
Mualem sebelumnya telah mengingatkan masyarakat mengenai potensi peningkatan risiko bencana selama musim hujan. Kondisi tanah yang masih labil di sejumlah wilayah dinilai perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Aceh berada dalam status waspada dengan potensi hujan berintensitas sedang hingga lebat mulai September hingga Februari mendatang. Sebelumnya, BMKG sempat mencantumkan Aceh dalam kategori Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat, sebelum status tersebut berubah menjadi waspada.
Mualem menekankan pentingnya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini. Pemerintah Aceh bersama seluruh unsur terkait diminta memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan bencana, termasuk melalui penguatan koordinasi dan respons cepat di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi seluruh unsur Forkopimda Aceh, TNI dan Polri, pemerintah kabupaten/kota, instansi terkait, serta perguruan tinggi negeri dan swasta.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan, mempercepat penanganan ketika bencana terjadi, dan memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....