MPD Aceh Barat Perkuat Mutu Dayah melalui Workshop Pendidikan 2026

  • 03 Sep 2026 22:18 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten Aceh Barat menggelar Workshop Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Dayah Salafiyah dan Diniyah Tahun 2026 di Aula Cabang Dinas Pendidikan Aceh Barat, Rabu hingga Kamis, 2-3 September 2026. Kegiatan yang diikuti 40 perwakilan dayah tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan sekaligus memperkuat tata kelola, mutu, akreditasi, dan legalitas kelembagaan dayah.

Ketua MPD Kabupaten Aceh Barat, Drs. Adami Umar, M.Pd., mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan dayah di Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan selama dua hari itu menghadirkan pemateri dari unsur ulama, pengelola akreditasi dayah, serta Kementerian Agama.

“Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari unsur ulama, pengelola akreditasi dayah dan Kementerian Agama untuk memberikan penguatan kepada peserta, baik melalui penyampaian materi maupun diskusi serta praktik,” kata Adami, Kamis, 3 September 2026.

Adami menjelaskan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung visi dan misi Bupati Aceh Barat dalam pengembangan serta penguatan dayah sebagai bagian penting pembangunan pendidikan dan sumber daya manusia. Menurutnya, penguatan kapasitas pengelola diperlukan agar dayah mampu berkembang dengan tata kelola yang semakin baik.

“Melalui peningkatan kapasitas manajerial, mutu, akreditasi dan legalitas kelembagaan, kita mendorong terciptanya tata kelola dayah yang semakin baik serta memperkuat sinergi dengan Pemkab Aceh Barat dan dinas terkait dalam pengembangan dayah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, peningkatan mutu dayah memiliki peran penting dalam membangun sumber daya manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki daya saing. Dayah juga memiliki posisi strategis dalam pendidikan masyarakat Aceh sehingga penguatan kualitas kelembagaannya perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Karena itu, peningkatan mutu tidak hanya menyangkut proses pembelajaran, tetapi juga bagaimana dayah dikelola secara profesional, memiliki administrasi yang tertib, memenuhi standar mutu, serta mampu mengikuti perkembangan kebutuhan pendidikan,” kata Adami.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai kepemimpinan dan strategi pengelolaan dayah salafiyah yang disampaikan Ketua PW HUDA Aceh Barat, Abu Abdurrahman Amin. Materi tersebut membahas pengalaman, tantangan, serta solusi dalam mengelola dayah salafiyah sesuai kondisi yang dihadapi di lapangan.

“Pokok pembahasan diarahkan pada pentingnya kepemimpinan yang kuat dalam mengelola dayah Salafiyah, termasuk bagaimana menghadapi berbagai tantangan pengelolaan lembaga serta mencari solusi berdasarkan pengalaman dan kondisi riil dayah,” ujar Adami.

Materi berikutnya disampaikan Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh, Tgk. Marbawi Yusuf, SH., mengenai tahapan proses jaminan mutu pendidikan dayah berbasis akreditasi. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti diskusi dan praktik dalam menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk sistem penjaminan mutu pendidikan dayah.

“Tidak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga mengikuti diskusi dan praktik mengisi serta melengkapi bahan-bahan yang dibutuhkan oleh sistem penjaminan mutu pendidikan dayah,” katanya. Dengan metode tersebut, peserta diharapkan mampu memahami sekaligus mempraktikkan proses persiapan dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan akreditasi.

Pada hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai legalitas dan pengakuan satuan pendidikan formal pada pondok pesantren yang disampaikan Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Aceh, Dr. H. Muntasyir, S.Ag., M.A. Materi tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada pengelola dayah mengenai aspek legalitas serta pengakuan satuan pendidikan formal.

“Kita ingin dayah di Aceh Barat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam,” kata Adami. Ia menegaskan penguatan manajemen, mutu, dan akreditasi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai keislaman, tradisi keilmuan, serta karakter yang menjadi kekuatan dayah.

Adami berharap seluruh peserta dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama workshop di lembaga masing-masing. Ia juga mengingatkan agar akreditasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan administrasi, tetapi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....