DP3AKB Aceh Barat Wujudkan “Perempuan Kuat tanpa Luka”

  • 10 Agt 2026 15:57 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Aceh Barat menegaskan komitmennya dalam mendorong pengarusutamaan gender guna mewujudkan perempuan yang kuat tanpa mengalami berbagai bentuk “luka”, baik secara fisik, mental, maupun sosial.

Perwakilan DP3AKB Aceh Barat, Siti Zubaidah, menyampaikan bahwa tema “Perempuan Kuat Tanpa Luka” bukan sekadar slogan, tetapi merupakan refleksi kondisi ideal yang harus diperjuangkan bersama. Menurutnya, perempuan yang kuat adalah mereka yang memiliki akses setara terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi.

“Perempuan kuat bukan berarti harus menanggung semua beban sendiri, tetapi bagaimana mereka mendapatkan dukungan sistem yang adil, baik dari keluarga, masyarakat, maupun pemerintah,” ujar Siti Zubaidah dalam dialog RRI terkait pengarusutamaan gender, Senin 10 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, pengarusutamaan gender merupakan strategi untuk memastikan bahwa kebijakan dan program pembangunan memperhatikan kebutuhan serta kepentingan perempuan dan laki-laki secara adil. Di Aceh Barat, implementasi kebijakan ini terus didorong melalui berbagai program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

DP3AKB Aceh Barat, lanjutnya, telah menjalankan sejumlah program nyata, mulai dari peningkatan kapasitas perempuan, pendampingan korban kekerasan, hingga dukungan terhadap perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Upaya tersebut bertujuan untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan daerah.

Namun demikian, tantangan dalam penerapan kesetaraan gender masih cukup besar. Siti Zubaidah mengakui bahwa budaya patriarki, keterbatasan akses, serta kurangnya pemahaman masyarakat menjadi hambatan yang perlu diatasi secara bersama.

Dalam aspek perlindungan, DP3AKB juga menyoroti masih adanya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pemerintah daerah telah menyiapkan mekanisme pelaporan serta layanan pendampingan bagi korban, termasuk melalui kerja sama lintas sektor.

“Peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam mencegah kekerasan. Edukasi sejak dini tentang kesetaraan dan saling menghargai harus terus digalakkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan agar perempuan, khususnya generasi muda, berani tampil, berdaya, dan berkontribusi di berbagai sektor.

DP3AKB juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, serta media massa dalam mengkampanyekan kesetaraan gender. Media, termasuk radio, dinilai memiliki peran penting dalam menyebarluaskan informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Di akhir pernyataannya, Siti Zubaidah mengajak seluruh perempuan di Aceh Barat untuk terus percaya diri dan tidak takut mengambil peran dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

“Harapan kita ke depan, perempuan Aceh Barat menjadi sosok yang mandiri, berdaya, terlindungi, dan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan tanpa harus mengalami berbagai bentuk kekerasan atau diskriminasi,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....