BMKG: Hujan di Barat Selatan Aceh Dipicu Dinamika Atmosfer, Bukan El Nino
- 04 Agt 2026 21:10 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Hujan yang mengguyur wilayah Barat Selatan Aceh dalam tiga hari terakhir dipicu oleh dinamika atmosfer, bukan semata-mata akibat fenomena El Nino. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Nagan Raya, Yoga Almaruf, menjelaskan kondisi tersebut terjadi di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, dan sekitarnya pada periode 4 hingga 10 Agustus akibat aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Yoga Almaruf mengatakan pengaruh El Nino terhadap wilayah Aceh, khususnya Barat Selatan, tidak terlalu signifikan dibandingkan daerah lain di Indonesia. "Sebenarnya pengaruh El Nino di Provinsi Aceh, khususnya wilayah Barat Selatan seperti Meulaboh dan Nagan Raya, tidak terlalu signifikan, meskipun dampaknya tetap ada namun relatif lemah," ujarnya Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Yoga, hujan yang terjadi lebih dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintasi sebagian Pulau Sumatera. "Walaupun aktivitas Rossby dan MJO di wilayah kita tergolong lemah, kondisi tersebut tetap mampu mendukung pertumbuhan awan hujan," katanya.
Selain faktor gelombang atmosfer, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu turut memperkuat peluang hujan di wilayah Barat Selatan Aceh. "Sirkulasi siklonik ini membentuk belokan angin dan daerah konvergensi yang memicu pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan," jelas Yoga.
BMKG memprakirakan potensi hujan masih akan berlangsung pada periode 4 hingga 10 Agustus dengan intensitas ringan hingga sedang. "Hujan berpeluang terjadi pada sore, malam hingga dini hari dan dapat disertai angin kencang serta petir," ungkapnya.
Yoga mengimbau masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir agar meningkatkan kewaspadaan selama periode tersebut. "Apabila hujan turun terus-menerus selama dua sampai tiga hari, masyarakat yang tinggal di daerah langganan banjir perlu mengantisipasi kenaikan tinggi muka air sungai maupun genangan," katanya.
Ia juga menjelaskan wilayah Barat Selatan Aceh termasuk kawasan non-ZOM atau non Zona Musim sehingga tidak memiliki batas musim hujan dan kemarau yang tegas. "Kondisi cuaca di wilayah non-ZOM sangat dinamis, sehingga setelah periode panas dan kering dapat kembali terjadi hujan dalam waktu relatif singkat," tutur Yoga.
BMKG akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer, termasuk keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia yang memengaruhi cuaca di Aceh. "Selama sirkulasi siklonik masih bertahan, potensi hujan tetap ada, dan kami akan terus memberikan pembaruan informasi cuaca kepada masyarakat," pungkas Yoga Almaruf.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....