UTU Lakukan Penelitian Mitigasi Kerentanan Petani Padi Pascabanjir Aceh Utara
- 17 Jul 2026 17:43 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Aceh Utara - Banjir bandang yang merendam belasan kecamatan di Kabupaten Aceh Utara pada akhir 2025 meninggalkan luka mendalam bagi petani padi setempat. Data Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara mencatat sekitar 12.537 hektare sawah gagal panen akibat bencana tersebut, memukul telak penghidupan ribuan rumah tangga tani. Persoalan inilah yang mendorong Irham Maulana, S.P., M.Si., dosen muda Program Studi Agribisnis Universitas Teuku Umar (UTU), melakukan penelitian guna merumuskan model mitigasi yang lebih tepat sasaran bagi petani padi terdampak.
Penelitian bertajuk “Model Mitigasi Kerentanan Multidimensional Petani Padi Pasca Banjir di Aceh Utara: Integrasi Fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (FsQCA) dan Pemetaan Spasial” ini digarap Irham bersama empat anggota tim, yaitu Tsamarah Nur Rahmah, S.Hut., M.Si., Zakki Muhtaram, S.P., M.Si., Ir. Muhammad Afzal, S.TP., dan Keke Putri Anggraini Lestari, S.P. Riset ini didanai melalui skema Penelitian Dosen Pemula, Hibah BIMA 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Selama ini, kajian kerentanan petani terhadap bencana lebih banyak mengandalkan indeks komposit dan regresi linier yang mengasumsikan hubungan sebab-akibat bersifat tunggal dan searah. Padahal, menurut Irham, kerentanan yang dialami petani di lapangan jauh lebih rumit karena terbentuk dari kombinasi banyak faktor sekaligus, mulai dari kondisi ekonomi, sosial, kelembagaan, hingga kerusakan lingkungan pascabanjir.

Untuk menjawab persoalan itu, Irham dan tim menggabungkan dua pendekatan analisis. Pertama, indeks kerentanan rumah tangga dihitung menggunakan Livelihood Vulnerability Index (LVI) yang dipetakan secara spasial memakai aplikasi Quantum GIS (QGIS). Kedua, hasil pengukuran tersebut dianalisis lebih jauh menggunakan Fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (FsQCA), metode konfiguratif yang menurut peneliti masih sangat jarang dipakai dalam riset kebencanaan pertanian di Indonesia, terlebih dalam konteks pascabanjir di Aceh.
“Selama ini metode yang ada sering menyamaratakan penyebab kerentanan, padahal setiap desa punya kombinasi masalah yang berbeda-beda. Lewat FsQCA, kami coba memetakan kombinasi itu satu per satu supaya rekomendasi yang kami berikan nanti benar-benar sesuai kondisi masing-masing wilayah,” kata Irham.
Sebelum turun ke lapangan, tim lebih dulu menggelar diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk menyusun instrumen penelitian dan menentukan lokasi sasaran. Tim kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk menyelaraskan data serta program kesiapsiagaan bencana yang sudah berjalan, sebelum akhirnya mendatangi rumah tangga petani di kecamatan-kecamatan terdampak guna mengumpulkan data primer lewat survei dan kuesioner.
Penelitian yang berlangsung selama satu tahun ini ditargetkan menghasilkan tiga luaran, yaitu publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa peta digital distribusi kerentanan petani padi, serta policy brief yang akan diserahkan langsung kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sebagai bahan perumusan kebijakan mitigasi bencana.
“Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya di Aceh Utara, dan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan (policy brief) untuk pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi ke depan,” ujar Irham Maulana.
Sebagai dosen muda, Irham berharap riset yang ia gagas bersama timnya bisa menjadi rujukan nyata bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pertanian yang lebih tahan bencana, sekaligus memperkaya penerapan metode konfiguratif dalam kajian manajemen risiko bencana di Indonesia yang selama ini masih terbatas. (Tim Peneliti Hibah BIMA 2026, Universitas Teuku Umar)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....