UTU Kembangkan Kopi Robusta dan Liberika Jadi Oleh-Oleh Khas Aceh Barat
- 18 Jun 2026 08:28 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh – Kabupaten Aceh Barat menyimpan jejak sejarah panjang sebagai daerah penghasil kopi. Temuan Tim Universitas Teuku Umar (UTU) menunjukkan potensi kopi robusta dan liberika di daerah tersebut yang dinilai layak dikembangkan menjadi produk unggulan sekaligus oleh-oleh khas Aceh Barat.
Hasil observasi lapangan yang dilakukan di Desa Peunaga Cut Ujong dan Ujong Tanoh Darat menemukan adanya sistem budidaya kopi yang telah berlangsung sejak lama. Masyarakat pada masa lalu diketahui menerapkan pola tanam tumpang sari antara tanaman karet dan kopi, yang hingga kini masih dapat ditemukan di sejumlah kawasan.
Ketua Tim Program Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK) skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) Tahun 2026, Dedy Darmansyah, S.P., M.Si., mengatakan temuan tersebut memperkuat hubungan historis Aceh Barat dengan komoditas kopi.
Menurutnya, selain kopi robusta yang sudah dikenal masyarakat, Aceh Barat juga memiliki kopi liberika yang saat ini mulai mendapat perhatian di pasar kopi nasional maupun internasional karena karakter rasa yang unik.
"Kami melihat potensi kopi di Aceh Barat sangat besar. Di satu sisi konsumsi kopi dan jumlah warung kopi terus meningkat, namun di sisi lain banyak tanaman kopi masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pasar dan pengolahan," kata Dedy, Rabu, 17 Juni 2026.
Ia menjelaskan, pengembangan kopi lokal menjadi penting karena memiliki nilai ekonomi yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan petani, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata daerah.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, UTU berkolaborasi dengan Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat dan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Aceh Barat melalui Program PM-UPUD Tahun 2026.
Program tersebut mengusung tema Implementasi Model UMKM Hijau dan Teknologi Pascapanen untuk Peningkatan Nilai Tambah Produk Kopi di Kabupaten Aceh Barat dengan melibatkan dua pelaku usaha lokal, yakni Apon Kupi Aceh dan UD Bubuk Kopi H. Amrin.
Dalam program tersebut, tim menghadirkan sejumlah inovasi teknologi pascapanen untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi kopi lokal. Salah satunya berupa pengembangan mesin sangrai (roasting) berkapasitas besar yang dirancang oleh dosen dan mahasiswa.
Dosen AKN Aceh Barat, Herdian Saputra, S.T., M.T., mengatakan mesin tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi dari sebelumnya sekitar 25 kilogram menjadi 80 hingga 100 kilogram per proses.
"Mesin ini dapat dioperasikan menggunakan motor listrik dan tetap bisa dijalankan secara manual saat terjadi pemadaman listrik. Inovasi ini disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha di lapangan," ujarnya.
Selain penguatan teknologi, program tersebut juga mencakup pendampingan peningkatan mutu produk melalui penerapan panen petik merah, sortasi biji kopi, pengolahan yang lebih higienis, hingga pengembangan produk kopi robusta fermentasi.
Di bidang pemasaran, tim juga menyiapkan desain kemasan baru yang mengangkat identitas budaya Aceh Barat. Kemasan akan menampilkan motif khas daerah serta narasi sejarah Teuku Umar untuk memperkuat nilai budaya dan daya tarik produk.
Tim pengabdian menargetkan peluncuran produk kopi khas Aceh Barat dengan kemasan dan kualitas baru pada Juli 2026. Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem UMKM kopi sekaligus menjadikan robusta dan liberika sebagai oleh-oleh khas yang membanggakan daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....