Wabup Aceh Barat Luncurkan Gerakan Tanggap Risiko Stunting

  • 18 Jun 2026 08:55 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID Meulaboh – Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, SH, membuka kegiatan Gerakan Aceh Barat Tanggap Risiko Stunting: Sosialisasi Sistem Early Warning Gizi 1000 HPK untuk Pencegahan Stunting dan Wasting di Aula Teuku Umar, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya memperkuat pencegahan stunting, wasting, dan Kekurangan Energi Kronik (KEK) melalui deteksi dini pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Dalam kegiatan itu, pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat sistem pemantauan status gizi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas intervensi terhadap kelompok rentan, khususnya ibu hamil, bayi, dan balita.

Wakil Bupati Aceh Barat Said Fadheil mengatakan stunting masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, dampak stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan kualitas hidup di masa depan.

“Stunting masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan SDM. Dampak stunting tidak hanya terbatas pada gangguan pertumbuhan fisik anak tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan kognitif, prestasi pendidikan, produktivitas ekonomi, kualitas kesehatan serta daya saing bangsa di masa depan,” kata Said Fadheil.

Ia menjelaskan berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Aceh Barat mengalami penurunan dari sekitar 33 persen pada tahun 2025 menjadi 25,8 persen pada tahun 2026. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional yang saat ini berada pada kisaran 18 persen.

Menurut Said, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kelompok masyarakat yang belum mendapatkan layanan deteksi risiko dan intervensi secara optimal. Karena itu, diperlukan langkah yang lebih cepat, tepat, dan terintegrasi dalam upaya pencegahan stunting.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat ibu hamil, bayi dan anak yang belum memperoleh deteksi risiko dan intervensi secara optimal pada periode 1.000 hari pertama kehidupan,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, lanjut Said, menyambut baik inovasi yang dikembangkan oleh Universitas Teuku Umar dalam mendukung percepatan penurunan stunting. Inovasi tersebut berupa dashboard gizi yang terintegrasi dengan sistem Early Warning System (EWS) gizi untuk memantau kondisi ibu dan anak secara lebih cepat dan akurat.

Ia menilai pemanfaatan teknologi menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dengan sistem yang terintegrasi, potensi risiko stunting dapat diketahui lebih awal sehingga intervensi dapat segera dilakukan.

“Melalui kegiatan ini diharapkan akan terbentuk sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah gampong, perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun sistem pencegahan stunting yang lebih responsif, berbasis teknologi dan berkelanjutan,” ungkap Said.

Wakil Bupati juga mengajak seluruh tenaga kesehatan yang hadir untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Ia berharap para peserta dapat memahami materi yang disampaikan narasumber dan tim peneliti sehingga mampu mengimplementasikannya di wilayah kerja masing-masing.

Selain menjadi wadah sosialisasi, kegiatan tersebut juga menjadi forum penguatan kolaborasi lintas sektor dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap sistem peringatan dini gizi yang diperkenalkan dapat menjadi instrumen efektif dalam mempercepat penurunan angka stunting dan mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, serta berdaya saing di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....