Jembatan Ambruk, Murid SDN Alu Lhok Arungi Sungai demi Sekolah
- 05 Jun 2026 16:20 WIB
- Meulaboh
Poin Utama
- Puluhan siswa SDN Alu Lhok terpaksa menyeberangi sungai untuk sekolah karena jembatan penghubung Desa Cangai–Desa Jambak ambruk akibat banjir bandang pada November 2025.
- Fasilitas pendidikan rusak, siswa ujian di tenda darurat dan lima bangunan sekolah belum diperbaiki.
- Warga mendesak pemerintah segera membangun kembali jembatan dan memperbaiki sekolah pascabanjir 2025.
RRI.CO.ID, Meulaboh - Puluhan murid SD Negeri Alu Lhok, Kabupaten Aceh Barat dalam sepekan ini terpaksa mengarungi derasnya air sungai untuk ke sekolah. Kondisi ini akibat sudah tidak ada jembatan penghubung Desa Cangai - Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen.
Anak-anak berenang sendiri, ada pula yang dipikul di bahu orangtua mereka. Sesampainya di daratan Desa Jambak barulah mereka menggunakan seragam sekolah dan menjemur pakaian basah.
"Selama ujian kami ke sekolah berjalan dan berenang lewati sungai. Sebelum ujian kami belajar di Polindes di kampung," ujar Raudhatun Nisa murid kelas IV SDN Alu Lhok di tepian sungai.

Kecamatan Pante Ceureumen merupakan kawasan terparah dihantam banjir bandang pada November 2025 lalu. Infrastruktur jembatan, bangunan sekolah dan rumah warga rusak dan ambruk akibat bencana Hidrometeorologi.
Tidak ada perahu karet atau perahu ataupun sampan yang bisa digunakan. Jika air sungai normal maka mengarungi sungai adalah alternatif siswa ke sekolah.
"Nggak takut, berenang sama-sama. Kami mohon pak Presiden Prabowo kami juga mau rasakan MBG. Jembatan dibangun kembali, sekolah kami yang rusak juga dibuat lagi," keluh Nisa, bersama teman-temannya.

Setelah rambut anak disisir, dibedakin dan pakaian basah dijemur, para orangtua anak kembali menyeberang sungai air deras di atas pingang.
Anak-anak sudah berseragam SD berjalan perlahan sambil bernyanyi lagu viral mas bahlil ganteng. Hingga mereka tiba di sekolah dan disambut sebuah tenda "Kemendikdasmen", ruang terbuka tempat mereka mengisi lembar ujian.
Idrus, salah satu orangtua murid menyampaikan keluhan dan harapan kepada pemerintah agar melihat dan membangun jembatan penghubung kembali. Karena bukan hanya soal pendidikan, tapi juga perekonomian warga pedalaman yang belum pulih pascabencana.
"Ada jalan jembatan lain tapi sangat jauh harus berputar 8 kilometer jalan rusak, habis waktu seharian antar jemput anak sekolah," tuturnya.

Kepala SDN Alu Lhok Amir, S.Pd menyampaikan bahwa sekolah tidak pernah menganjurkan anak-anak menyeberang sungai. Semua itu pilihan orangtua murid karena jalur sungai paling dekat dengan sekolah.
"Jembatan penghubung itu hancur saat bencana akhir 2025, selama ini anak-anak di Gampong Cangai itu kita buat kelas jauh, guru ke sana. Namun selama ujian mereka diantar orangtua mereka lewat sungai," ujar Amir.
Setelah berbagai pertimbangan dan kesepakatan orangtua siswa, untuk ke depan proses belajar mengajar rencananya sekolah tidak lagi membuka kelas jauh di Polindes.
"Mudah-mudahan pemerintah dapat memberikan solusi. Harapan kita pertama sekali jembatan itu dibangun. Sekolah kita juga rusak 5 bangunan termasuk Pustaka tidak ada lagi buku sekolah," keluh Amir.
Harapan besarnya adalah, semua anak-anak yang tinggal di daerah terpencil itu mendapat akses pendidikan yang layak. Sekolah setempat juga belum menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....