Apel Green Aceh Gelar Pelatihan AMDAL Perkuat Pengawasan

  • 07 Mar 2026 20:05 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Suka Makmue – Yayasan Apel Green Aceh menyelenggarakan pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, mahasiswa, serta organisasi masyarakat sipil di Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman publik dalam mengawasi serta memastikan perlindungan lingkungan hidup di tengah meningkatnya aktivitas pembangunan dan industri di wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya.

Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang. Peserta berasal dari unsur pemerintah daerah, mahasiswa, serta organisasi masyarakat sipil yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan hidup.

Perwakilan instansi pemerintah yang terlibat antara lain dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Nagan Raya. Selain itu, peserta juga berasal dari Dinas PUPR, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta Bappeda Nagan Raya.

Kegiatan ini juga diikuti mahasiswa dari wilayah Nagan Raya dan Aceh Barat. Sejumlah organisasi masyarakat sipil, LSM, dan organisasi mahasiswa yang aktif dalam isu lingkungan hidup turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.

Ketua panitia pelatihan, Ayi Mauliza, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi berbagai pihak. Menurutnya, AMDAL memiliki peran penting dalam memastikan setiap kegiatan pembangunan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat, pemerintah, dan akademisi untuk memahami peran strategis AMDAL dalam memastikan pembangunan tetap memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan,” ujar Ayi.

Direktur Yayasan Apel Green Aceh, Syukur Tadu, menyampaikan bahwa pelatihan AMDAL merupakan program yang secara rutin diselenggarakan oleh lembaganya. Program ini bertujuan memperkuat partisipasi publik dalam perlindungan lingkungan hidup.

“Pada tahun 2025 lalu, Apel Green Aceh telah menyelenggarakan pelatihan AMDAL bersertifikat yang melibatkan ASN Kabupaten Nagan Raya, akademisi, tokoh masyarakat, serta perwakilan LSM dan NGO,” kata Syukur.

Ia menambahkan bahwa pada tahun ini pelatihan kembali dilaksanakan dengan pendekatan yang lebih tematik. Hal ini dilakukan untuk memperkuat pemahaman masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai AMDAL serta hak-hak masyarakat dalam perlindungan lingkungan.

Menurutnya, pelatihan tahun ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pakar AMDAL, akademisi, praktisi hukum, serta pegiat keterbukaan informasi publik. Para peserta mendapatkan pemahaman terkait proses penyusunan AMDAL serta mekanisme pengawasan terhadap kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.

Syukur menilai penguatan kapasitas masyarakat sangat penting terutama bagi komunitas yang hidup berdampingan dengan aktivitas industri. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan.

Salah satu peserta pelatihan, Darna, mengaku kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bagi masyarakat mengenai hak-hak mereka dalam perlindungan lingkungan hidup.

“Kami sangat berterima kasih atas pelatihan ini. Melalui kegiatan ini kami menjadi lebih memahami apa itu AMDAL dan apa saja hak kami sebagai masyarakat,” ujarnya.

Perwakilan DLHK Nagan Raya, Cut Auriza Satifa, berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam upaya perlindungan lingkungan. Ia juga menilai masyarakat perlu mampu mengidentifikasi lebih awal potensi pencemaran yang terjadi di wilayahnya.

“Peserta dari masyarakat diharapkan tidak hanya memahami dokumen AMDAL secara teknis, tetapi juga mampu mengidentifikasi potensi pencemaran air, udara, maupun perubahan ekosistem di wilayahnya,” katanya.

Sementara itu, Arisandi dari Dinas PUPR Nagan Raya menilai pelatihan tersebut sangat relevan dengan kondisi pembangunan saat ini. Ia menilai materi yang disampaikan serta komposisi peserta yang beragam menjadi kekuatan dalam kegiatan tersebut.

Dari kalangan mahasiswa, Arli Irdawan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di masa mendatang. Ia menilai pelatihan ini dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.

“Melalui kegiatan ini kami berharap ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Perwakilan organisasi masyarakat sipil, Zulkifar, menambahkan kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antar pihak. Ia berharap kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan organisasi sipil dapat terus ditingkatkan.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan organisasi sipil dalam mengawal pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Melalui pelatihan ini, Yayasan Apel Green Aceh berharap kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan lingkungan semakin meningkat. Peningkatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, serta keberlanjutan pembangunan di Aceh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....