Warga Simeulue Tewas Diterkam Buaya, FJL Desak DKP Bertindak
- 17 Feb 2026 21:54 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Seorang warga Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh, Jusmitawati (36), meninggal dunia setelah diterkam buaya saat mencari kerang di Sungai Luan Boya, Minggu 16 Februari 2026. Peristiwa tragis itu terjadi saat korban bersama dua rekannya menyusuri sungai untuk mencari kerang, di tengah aktivitas tersebut, Jusmitawati tiba-tiba menghilang.
Upaya pencarian yang dilakukan rekan korban dan warga sekitar tidak membuahkan hasil hingga akhirnya korban ditemukan berada di rahang buaya yang muncul ke permukaan sungai.
Video kejadian itu beredar luas di media sosial dan memicu ketakutan serta kemarahan masyarakat. Insiden tersebut menambah daftar konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya buaya muara, di wilayah Aceh.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh, Hidayatullah, mendesak pemerintah agar mengambil langkah serius dan terukur dalam menangani konflik satwa liar.
"Ini bukan kejadian pertama adanya korban manusia akibat konflik satwa di Aceh. Artinya ada persoalan serius dalam tata kelola wilayah dan mitigasi konflik satwa. Kalau pemerintah hanya terus mengimbau warga menjauh dari sungai, lalu di mana solusi jangka panjangnya?" ujar Hidayatullah, yang akrab disapa Dayat, Selasa 17 Februari 2026.
Menurut Dayat, pemerintah tidak bisa terus-menerus membebankan tanggung jawab kepada masyarakat tanpa menghadirkan kebijakan yang komprehensif. Ia menilai akar persoalan seperti kerusakan habitat, perubahan ekosistem, serta belum adanya peta wilayah rawan konflik belum ditangani secara optimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Simeulue, Carles, menyampaikan bahwa langkah sementara yang dilakukan pemerintah adalah mengimbau warga untuk menghindari aktivitas di wilayah perairan yang terindikasi sebagai habitat buaya.
"Kami meminta warga untuk sementara tidak beraktivitas di sungai, muara, atau danau yang terindikasi habitat buaya, seperti mandi, berenang, dan mencuci,” ujarnya.
Selain itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan terutama pada malam hari, menjaga kebersihan sungai, serta tidak membuang sisa makanan ke perairan karena dapat menarik buaya mendekat. DKP Simeulue juga mendorong pemasangan papan peringatan bertuliskan "Bahaya Buaya" di sejumlah titik rawan.
Namun FJL Aceh menilai imbauan dan pemasangan spanduk peringatan belum cukup untuk mencegah jatuhnya korban. Mereka mendorong pemerintah melakukan kajian ilmiah menyeluruh, patroli rutin, pemetaan wilayah rawan konflik, serta langkah relokasi satwa berbasis konservasi.
Selain itu, perlindungan terhadap warga yang menggantungkan hidup pada sungai juga dinilai perlu diperkuat.
"Manusia dan satwa harus bisa hidup berdampingan dengan aman. Tapi itu hanya bisa terjadi jika pemerintah hadir secara nyata, bukan sekadar memberi larangan,” kata Dayat.
Tragedi yang menimpa Jusmitawati menjadi peringatan serius bagi semua pihak agar penanganan konflik manusia dan satwa liar dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....