Kampus Berdampak Perkuat Peran Mahasiswa UTU Pascabencana

  • 06 Feb 2026 16:56 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Sebanyak 100 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) diterjunkan ke sejumlah gampong terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh Barat melalui Program Mahasiswa Berdampak Tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana akhir November 2025 lalu.

Program ini secara resmi di lepas oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil SH di halaman kantor bupati Aceh Barat, Jumat, 3 Februari 2026. Dalam sambutannya, Said Fadheil menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Teuku Umar, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), yang dinilai konsisten menghadirkan program pengabdian masyarakat yang nyata, relevan, dan dibutuhkan, terutama dalam mendukung pemulihan pascabencana.

Menurut Said, sejumlah wilayah di Aceh Barat masih memerlukan pendampingan pascabencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, seperti Gampong Lawet dan Gampong Jambak. Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan energi baru, memperkuat semangat pemulihan, serta menumbuhkan kembali harapan dan kepercayaan masyarakat.

“Kami berpesan kepada seluruh mahasiswa agar turun ke lapangan dengan sikap rendah hati, menjaga etika, serta menghormati adat dan budaya setempat. Hadir sebagai mitra masyarakat, belajar bersama mereka, mendengarkan dengan baik, dan berkontribusi secara nyata sesuai kemampuan masing-masing,” kata Said Fadheil.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTU, Ir Yuliatul Muslimah MP mengatakan program tersebut merupakan inisiatif Kementerian yang mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. UTU sendiri berhasil meloloskan delapan proposal nasional, dengan dua lokasi pengabdian berada di Aceh Barat.

“Mahasiswa kami ditempatkan di desa-desa terdampak bencana dengan latar belakang fakultas yang beragam. Program ini berlangsung selama satu bulan dan dikonversikan setara dengan KKN,” ujar Yuliatul.

Ia menjelaskan, fokus kegiatan mahasiswa mencakup pendampingan pertanian, layanan kesehatan dasar, pemulihan psikososial, literasi sosial, hingga inovasi pertanian seperti pengembangan sistem hidroponik. Pendampingan juga melibatkan dosen agar pengabdian berjalan terarah dan berkelanjutan.

Menurut Yuliatul, daerah terdampak bencana tidak hanya membutuhkan bantuan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan sosial masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam program ini.

Sementara itu, dua mahasiswa UTU, Chelsy Mahasi dan Inkan Safitri, menyampaikan kesiapan mereka untuk terlibat langsung di lapangan. Kegiatan yang akan dilakukan antara lain pemeriksaan kesehatan, gotong royong membersihkan rumah warga dari sisa banjir, serta pendampingan sosial kepada masyarakat.

“Kami ingin kehadiran mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya dan membantu masyarakat bangkit kembali setelah bencana,” ujar mereka.

Program Mahasiswa Berdampak diharapkan mampu memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....