Tradisi Ramadan di Lampung: Dari Kue Tat hingga Bakar Tempurung Kelapa

  • 06 Mar 2026 15:04 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulabo -: Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisi dan budaya lokal. Di Provinsi Lampung, sejumlah kebiasaan khas masih terus dipertahankan masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan sosial selama bulan puasa.

Hal tersebut disampaikan warga Lampung, Yopa Gustianto, saat berbagi cerita dalam program “Kisah Unik Ramadan (Kurma)” yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) Meulaboh. Ia mengatakan, suasana Ramadan di Lampung biasanya mulai terasa semakin semarak ketika memasuki pertengahan bulan puasa.

Salah satu tradisi yang selalu muncul pada periode tersebut adalah kebiasaan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, menyiapkan kue khas daerah bernama kue tat. Kue ini hampir selalu hadir di setiap rumah sebagai hidangan khas menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Kalau sudah pertengahan Ramadan, ibu-ibu di sini biasanya sudah mulai membuat kue tat. Hampir setiap rumah ada karena memang itu kue khas Lampung yang selalu disiapkan untuk Lebaran,” ujar Yopa, Kamis 5 Maret 2026.

Menurutnya, proses pembuatan kue tat tidak hanya sekadar aktivitas memasak, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan antaranggota keluarga maupun tetangga. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara gotong royong sehingga mempererat hubungan sosial masyarakat menjelang Idulfitri.

Selain tradisi kuliner, masyarakat di sejumlah kampung di Lampung juga memiliki kebiasaan unik dengan membakar tempurung kelapa atau batok kelapa di depan rumah pada malam-malam Ramadan. Tempurung kelapa tersebut disusun hingga membentuk tumpukan lalu dibakar mulai sekitar pukul 22.00 malam hingga menjelang waktu sahur.

“Biasanya mulai dibakar dari jam 10 malam, lalu dilihat sampai sahur siapa yang tempurung kelapanya masih menyala. Itu sudah menjadi tradisi lama di sini,” kata Yopa.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut sering berkembang menjadi semacam perlombaan tidak resmi antarwarga bahkan antar kampung. Warga biasanya berkumpul di sekitar api yang menyala hingga menjelang sahur sambil berbincang dan mempererat kebersamaan selama Ramadan.

Menurut Yopa, berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa Ramadan di Lampung tidak hanya diisi dengan kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial serta menjaga warisan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat secara turun-temurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....