Ceramah Subuh: Dusta dan Hilangnya Keberkahan Hidup
- 03 Mar 2026 11:13 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-13 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Tausiah diisi oleh Drs. Tgk. H. Adami, MA, dengan judul “Dusta dan Hilangnya Keberkahan Hidup”.
Tgk Adami diawal ceramah menyampaikan puji dan syukur atas diberikannya umur panjang dan kesehatan oleh Allah SWT, sehingga dapat menjalakan ibadah shalat subuh secara berjamaah.
Ada beberapa keutamaan yang didapatkan melaksanakan shalat berjamaah, dimana Rasullullah mengatakan, mengenai orang yang bersuci di rumahnya lalu menuju masjid untuk salat fardhu adalah ia akan mendapatkan pahala besar.
“Satu langkah menghapus dosa/kesalahan dan langkah lainnya meninggikan derajat. Hadis ini menegaskan keutamaan berwudhu sempurna sebelum berjalan menuju rumah Allah” kata Tgk Adami dimimbar Masjid Jamik Baiturrahim.
Bunyi Hadis ini "Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya." (HR. Muslim, no. 666).
Keutamaan berikutnya ialah, setiap langkah kaki dicatat sebagai kebaikan, dihapuskan kesalahannya, dan diangkat derajatnya. Kemudian keutamaa shalat Subuh berjamaah memiliki keutamaan setara dengan shalat sepanjang malam (qiyamul lail).
Rasulullah Sallallualaihiwasalam bersabda, "Siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan ia telah shalat malam sepanjang malam" (HR. Muslim). Ini adalah karunia Allah bagi mereka yang menjaga shalat fardhu di waktu yang berat tersebut.
Berdasarkan hadits riwayat Imam At-Tirmidzi, amalan duduk berzikir, tausyiah atau membaca Al-Quran setelah shalat Subuh berjamaah hingga terbit matahari, kemudian dilanjutkan dengan shalat dua rakaat (shalat Isyraq/Dhuha awal), memiliki keutamaan yang sangat besar.
“Pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah sebanding dengan pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna, bukan secara spesifik disebutkan pahala 1000 rakaat sunnah” jelas Tgk Adami.
Tgk Adami menyampaikan ceramah yang kaitannya dengan Dusta (Bohong), dalam Al-Quran terdapat lebih dari dua ratus tujuh puluh lebih jumlah ayat yang berbicara tentang dusta, beberapa fakta terkait ayat-ayat tentang dusta dalam Al-Qur'an.
Terdapat ayat khusus bahaya dusta, sebab dusta (berbohong) dipandang sebagai dosa besar. Salah satu ayat yang menegaskan ini adalah QS. An-Nahl ayat 105: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta".
terhadap ayat-ayat Allah, terdapat sejumlah besar ayat yang menggunakan akar kata Dusta dalam berbagai bentuk (seperti kadaba, kazabu, kazabun, mukazzibun, dll). Makna kata Al-Kadzib dalam Al-Qur'an tidak hanya bermakna berbohong secara lisan, tetapi lebih sering merujuk pada kekufuran, pengingkaran, dan pendustaan terhadap tanda-tanda atau ayat-ayat Allah (kadzzaba-yukadzibu).
Bentuk Kata: Kata-kata yang merujuk pada dusta dalam Al-Qur'an muncul dalam berbagai variasi, seperti kazzab (pendusta), mukazzibun (orang-orang yang mendustakan), makzub (yang didustakan), dan lain-lain.
Dalam potongan ayat (Wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn), yang artinya: "Celakalah pada hari itu bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)." Merujuk juga pada ayat-ayat awal dalam Surat Al-Muthaffifin (Surah ke-83, ayat 1-3) dalam Al-Qur'an.
Wailul lil-muthaffifīn "Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!"
Allażīna iżaktālū ‘alan-nāsi yastaufūn" (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, "Wa iżā kālūhum au wazanūhum yukhsirūn" dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi."
Diakhir ceramah Tgk Adami berpesan agar tidak megikuti orang dusta, sebab perintah Allah untuk bersikap teguh dalam kebenaran, tidak kompromi dengan kebohongan, dan menjauhi perilaku orang-orang yang suka mendustakan agama (mukazzibin).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....