Keringanan Syariat bagi Penyandang Disabilitas di Bulan Ramadhan
- 24 Feb 2026 10:50 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh: Islam memberikan keringanan (rukhsah) kepada penyandang disabilitas dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Keringanan tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu, tanpa menghilangkan nilai ketakwaan di sisi Allah SWT.
Hal itu disampaikan Ustaz Said Muhammad Shaleh dalam dialog bersama RRI pada program Ruang Disabilitas, yang membahas tema “Keringanan Syariat bagi Penyandang Disabilitas di Bulan Ramadhan”, Sabtu 21 Februari 2026.
Menurutnya, pada prinsipnya syariat Islam dibebankan kepada setiap Muslim yang telah memenuhi syarat mukallaf, yakni beragama Islam, baligh, dan berakal. “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Maka keringanan itu hadir sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya,” ujarnya.
Ustaz Said menjelaskan, penyandang disabilitas intelektual ringan yang masih mampu memahami ajaran agama tetap memiliki kewajiban menjalankan ibadah, termasuk puasa Ramadhan. Namun, bagi mereka yang mengalami gangguan mental berat hingga tidak memiliki kemampuan memahami syariat, maka tidak dibebankan kewajiban ibadah.
Sementara itu, untuk disabilitas sensorik seperti gangguan penglihatan atau pendengaran, kewajiban ibadah tetap berlaku selama masih ada sarana untuk memahami ajaran agama. “Jika seseorang tidak dapat melihat namun masih bisa mendengar dan memahami, maka ia tetap berkewajiban menjalankan syariat,” katanya.
Ia menambahkan, keringanan juga berlaku bagi lansia renta dan penderita sakit menahun yang tidak lagi memiliki harapan sembuh. Dalam kondisi tersebut, kewajiban puasa dapat diganti dengan membayar fidyah, yakni memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.
“Bagi yang sakitnya masih berpeluang sembuh, maka cukup mengganti puasa di luar Ramadhan. Tetapi bagi yang tidak mampu lagi berpuasa secara permanen, maka cukup membayar fidyah,” jelasnya.
Ustaz Said juga mengingatkan keluarga untuk berperan aktif mendampingi anggota keluarga penyandang disabilitas dalam menjalankan ibadah. Pendampingan tersebut, menurutnya, menjadi ladang pahala besar bagi keluarga.
Ia menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada banyaknya ibadah, melainkan pada keikhlasan dan kesungguhan dalam menjalankannya. “Bisa jadi dua rakaat dari seorang yang memiliki keterbatasan lebih besar nilainya dibanding ibadah orang yang sehat tanpa kesungguhan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....