Indonesia Dorong Negara Asia-Afrika Pemanfaatan Ekonomi Biru
- 26 Sep 2025 16:37 WIB
- Meulaboh
KBRN, Jakarta: Indonesia mendorong negara-negara Asia dan Afrika untuk mengembangkan ekonomi biru (Blue Economy) karena memiliki potensi sangat besar. Pengembangan ekonomi biru ini dilakukan melalui kolaborasi dan sinergi.
Minister Counsellor Kedutaan Besar RI (KBRI) di Nairobi Wisnu Lombardwinanto, mengatakan bagi Indonesia laut memiliki arti penting. Laut menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat dan mahluk hidup lainnya.
"Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, dan pemilik salah satu garis pantai terpanjang di dunia. Serta mega biodiverse country, Indonesia memandang laut sebagai urat nadi kehidupan," kata Wisnu dalam acara 'Blue Economy Summit', di Prideinn Resort Hotel, Mombasa, Kenya, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima rri.co.id, Jumat (26/9/2025).
Masyarakat menggantungkan hidupnya pada laut sebagai sumber mata pencaharian, sumber pangan dan status sosial. Oleh sebab itu, ekonomi biru menjadi salah satu agenda pembangunan di Indonesia , ada keseimbangan antara kemanfaatan ekonomi dan lingkungan.
"Indonesia menempatkan ekonomi biru di pusat agenda pembangunan, dan sebagai jalur penyeimbang kemanfaatan ekonomi dengan pengelolaan lingkungan. Memastikan kesejahteraan, sekaligus menjaga laut untuk generasi sekarang dan mendatang," ujarnya.
Indonesia, kata Winsu, telah melakukan upaya-upaya terkait pengelolaan laut seperti ratifikasi Perjanjian FAO Port State Measures, memperkuat pengelolaan perikanan. Selanjutnya memulihkan hutan bakau dan terumbu karang; dan melestarikan jutaan hektar wilayah laut,
"Indonesia juga telah mengambil langkah penting seperti mengurangi sampah plastik laut melalui inisiatif nasional dan lingkungan. Memerangi penangkapan ikan secara ilegal dan berbahaya atau Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing(IUU)," ujarnya, menerangkan.
Indonesia juga memelopori pembiayaan inovatif, membangun sukuk hijau yang berdaulat, dan mengeksplorasi blue-bond, blended-financing. Selanjutnya crowd-funding, sekaligus mengembangkan Blue Economy Index untuk memantau kemajuan dan berbagi praktik terbaik sektor ekonomi biru.
Di tingkat internasional, Indonesia memimpin Working Group on Blue Economy di IORA, dan berperan aktif di ASEAN, Archipelagic and Islands States Forum. Indonesia juga aktif di UN Ocean Conference, Our Ocean Conference, High Level Panel on Sustainable Ocean Economy, International Maritime Organization, dan ITLOS.
"Dalam platform-platform ini, Indonesia tidak hanya berkontribusi . Tetapi juga memperjuangkan solusi bagi tata kelola laut yang berkelanjutan, termasuk ekonomi biru," ujarnya.
Indonesia memiliki pengalaman dalam pengelolaan laut seperti pengembangan desa pesisir terpadu dan rantai-nilai perikanan, hingga ecotourism, dan energi laut terbarukan. Indonesia membantu Kenya dengan menyiapkan 10 program mulai sektor perikanan, pertanian, energi panas bumi.
Indonesia juga membantu Kenya dalam program kesehatan ibu, standar medis, promosi perdagangan dan investasi. Oleh sebab itu Indonesia siap berkolaborasi dengan negara-negara atau mitra kerja di Afrika pada bidang-bidang ini.
"Dengan pendekatan berbasis demand-driven, Indonesia terbuka untuk berkolaborasi di sektor lainnya . Tentu yang sesuai dengan prioritas Kenya, baik secara bilateral maupun melalui Triangular Cooperation (Kerja Sama Selatan-Selatan)," kata Wisnu.
Wisnu menegaskan ekonomi biru bukan sekadar kekayaan alam yang menjanjikan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, mengelola laut secara bijaksana merupakan tanggung jawab bersama.
Oleh sebab itu, ia mengajak berbagai pihak seperti swasta, masyarakat, media, inovator, lembaga filantropi/investor, untuk bekerja secara inklusif . Kerja sama untuk mewujudkan ekonomi biru menjadi sumber kemakmuran bersama, ketahanan, keberlanjutan, dan perdamaian.
" Jika kita berhasil, manfaatnya tidak hanya akan diukur dari pertumbuhan ekonomi , tetapi juga dari lingkungan yang lebih kuat. Ekosistem yang lebih sehat, dan solidaritas yang lebih erat di seluruh kawasan dan global," ujarnya.
"Indonesia menggarisbawahi bahwa ekonomi biru bukan sekadar kekayaan alam. Namun yang menjanjikan yang belum dimanfaatkan secara optimal," katanya, menegaskan.
Acara yang berlangsung 23-26 Swptember, dihadiri oleh Gubernur Mombasa, Kenya, dan sekitar 1.200 peserta dari berbagai negara tersebut. Termasuk didalamnya Duta Besar Slovakia, Duta Besar Uni Eropa, Wakil Duta Besar Jerman, untuk Kenya.
Acara juga dihadiri oleh Principal Secretary for State Department of Blue Economy Kenya. Kegiatan ini mempertemukan atusan Start-Up, pameran yang menampilkan inovasi dan teknologi terbaru terkait ekonomi biru tersebut. (Puspem)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....