Yoga Turunkan Kadar Kolesterol Darah Berdasarkan Studi ilmiah

  • 19 Okt 2024 08:39 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh: Kolesterol dalam darah adalah salah satu tolok ukur kesehatan yang penting. Meskipun memang tidak secara langsung dan cepat menyebabkan kematian.

Kenaikan kadar kolesterol/ lipid dalam darah seseorang harus diwaspadai dan dikendalikan sesegera mungkin.

Jangan juga berasumsi bahwa kolesterol tinggi cuma dialami lansia dan orang paruh baya karena anak muda gen Z juga sudah mulai dijangkiti penyakit ini akibat gaya hidup tak sehat. Berikut kompasiana.com merilis Jumat (18/10/24).

1. Picu Stroke dan Serangan Jantung

Sebenarnya kolesterol bukanlah zat jahat jika ada dalam level yang sewajarnya di dalam tubuh. Ia sendiri adalah zat lilin yang ditemukan dalam darah.

Tubuh membutuhkan kolesterol untuk membangun sel-sel yang sehat, tetapi kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penumpukan endapan lemak di dinding pembuluh darah. Seiring waktu, endapan ini tumbuh dan menyumbat aliran darah, yang bisa memicu serangan jantung atau stroke.

Kolesterol tinggi bisa diturunkan, baik dari faktor genetik maupun gaya hidup tidak sehat. Meskipun tidak ada gejala yang jelas, tes darah adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi kolesterol tinggi.

Pemeriksaan kolesterol pertama sebaiknya dilakukan di usia 9-11 tahun, lalu diulangi setiap 5 tahun sekali. Untuk pria usia 45-65 tahun dan wanita 55-65 tahun, disarankan tes tahunan atau dua tahunan.

2. Dua Jenis Kolesterol

Ada dua jenis kolesterol utama, yakni LDL (kolesterol "jahat") yang menimbun di dinding pembuluh darah, serta HDL (kolesterol "baik") yang mengangkut kelebihan kolesterol ke hati.

Faktor yang bisa dikendalikan seperti kurang aktivitas fisik, kegemukan, dan pola makan tidak sehat berkontribusi pada kolesterol dan trigliserida yang tidak sehat.

Jangan lupa bahwa kadang ada kasus kolesterol tinggi meski seseorang bergaya hidup sehat. Ini bisa terjadi karena faktor di luar kendali seperti genetik juga berperan.

Beberapa kondisi medis dan obat-obatan tertentu juga bisa memperburuk kadar kolesterol. Faktor risiko lain meliputi diet tidak sehat, obesitas, kurang olahraga, merokok, konsumsi alkohol berlebih, serta faktor usia karena hati menjadi kurang mampu membuang LDL seiring bertambahnya usia.

3. Makanan yang Membantu Kendalikan Kadar Kolesterol

Makanan berperan penting dalam menjaga kadar kolesterol sehat. Mengonsumsi makanan kaya serat larut seperti oatmeal, kacang kacangan, sayuran berserat, dan buah-buahan dapat menurunkan kolesterol LDL (kolesterol jahat). Serat larut mengurangi penyerapan kolesterol dalam aliran darah.

Ikan berlemak sehat seperti salmon, tuna, dan makarel kaya akan asam lemak omega-3 yang dapat menurunkan trigliserida, tekanan darah, dan risiko penggumpalan darah.

Kacang-kacangan seperti almond dan kacang lainnya juga baik untuk meningkatkan kolesterol HDL. Alpukat merupakan sumber nutrisi dan lemak tak jenuh yang bermanfaat meningkatkan kualitas kolesterol LDL dan HDL. Mengonsumsi dua porsi alpukat per minggu dapat mengurangi risiko penyakit jantung.

Minyak zaitun sebagai pengganti lemak jenuh adalah pilihan sehat. Margarin dan jus jeruk yang diperkaya dengan sterol dan stanol nabati dapat membantu menurunkan kolesterol LDL dengan memblokir penyerapannya.

Selain mengonsumsi makanan sehat, penting untuk membatasi asupan lemak jenuh dan trans yang banyak terdapat dalam daging olahan, keju, margarin, dan makanan kemasan. Perubahan gaya hidup dengan diet seimbang dan olahraga teratur merupakan kunci untuk menjaga kadar kolesterol ideal.

4. Studi: Yoga Bisa Bantu Kendalikan Kolesterol

Studi yang dilakukan sekelompok ilmuwan ini meneliti tentang efek intervensi yoga pada profil lipid pasien diabetes dengan dislipidemia.

Penelitian ini dilakukan untuk menilai keefektifan yoga dalam mengelola dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) pada pasien diabetes tipe 2.

Studi ini melibatkan 100 pasien diabetes tipe 2 dengan dislipidemia yang dibagi secara acak ke dalam dua kelompok - kelompok kontrol dan kelompok yoga.

Kelompok kontrol hanya diberikan obat penurun gula darah oral. Sementara kelompok yoga selain diberikan obat yang sama, juga melakukan latihan yoga setiap hari selama 1 jam dalam waktu 3 bulan.

Setelah 3 bulan intervensi, kelompok yoga menunjukkan penurunan kadar kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol LDL (kolesterol jahat), serta peningkatan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik).

Kesimpulannya, yoga yang menggabungkan latihan fisik dan manajemen stres, terbukti efektif menurunkan kadar lemak darah yang tinggi pada pasien diabetes melalui pendekatan menyeluruh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....