Bubur Pedas Melayu, Warisan Rasa yang Tetap Hangat di tengah Zaman

  • 28 Mei 2026 15:37 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Bubur pedas Melayu tetap menjadi salah satu kuliner khas yang bertahan di tengah arus makanan modern. Hidangan ini dikenal dengan kuah kental berwarna kuning keemasan, berisi aneka sayuran, kacang tanah, dan rempah-rempah yang dihaluskan hingga menghasilkan rasa gurih sekaligus pedas yang khas. Bagi masyarakat Melayu di Kalimantan Barat, terutama di Singkawang dan Pontianak, bubur pedas bukan sekadar makanan penghangat badan, tapi juga simbol kebersamaan dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Proses pembuatannya cukup panjang dan membutuhkan kesabaran. Beras disangrai hingga kecokelatan lalu ditumbuk halus, dicampur dengan kaldu ikan atau ayam, serta bumbu seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan cabai. Sayuran seperti kangkung, kacang panjang, dan taoge kemudian dimasukkan bersama kacang tanah goreng untuk menambah tekstur. Aroma rempah yang kuat langsung tercium begitu bubur mulai mendidih, menciptakan cita rasa yang sulit ditemukan pada hidangan lain.

Bagi sebagian besar warga Melayu, bubur pedas paling sering disajikan saat bulan Ramadan sebagai menu buka puasa. Rasanya yang hangat dan mengenyangkan dianggap pas untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. “Kalau nggak ada bubur pedas pas buka, rasanya kurang lengkap. Ini sudah tradisi keluarga kami sejak dulu,” ujar Salmah, warga Singkawang yang masih mempertahankan resep warisan ibunya.

Meski zaman berubah, upaya pelestarian terus dilakukan. Beberapa pelaku UMKM mulai mengemas bubur pedas dalam bentuk instan dan menjualnya secara online agar bisa dinikmati perantau Melayu di luar daerah. Pemerintah daerah juga mendorong kuliner ini masuk dalam agenda festival budaya dan wisata kuliner, supaya generasi muda tidak melupakannya.

Di balik kesederhanaannya, bubur pedas Melayu menyimpan nilai kebersamaan yang sulit tergantikan. Semangkuk bubur yang disajikan panas-panas sering kali menjadi pemersatu keluarga besar saat berkumpul. Selama resep dan cara membuatnya terus dijaga, bubur pedas akan tetap hangat, bukan hanya di piring, tapi juga di ingatan orang-orang yang mencicipinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....