Kue Rasidah, Jajanan Tradisional Melayu yang Terus di Lestarikan di Sumatera

  • 27 Mei 2026 20:11 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh: Di tengah gempuran jajanan modern seperti boba, croissant, dan kue kekinian, kue rasidah masih berdiri tegak sebagai identitas kuliner Melayu di Sumatera Utara. Kue tradisional berwarna kuning keemasan ini tidak hanya soal rasa, tapi juga cerita budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kue rasidah dibuat dari bahan sederhana yaitu tepung beras, santan kelapa, gula merah, telur, dan sedikit garam. Kuncinya ada pada perbandingan bahan dan teknik pengukusan. Adonan diaduk hingga rata, lalu dituang ke cetakan kecil yang dialas daun pisang. Proses pengukusan selama 20-30 menit menghasilkan tekstur lembut di dalam dan sedikit kenyal di permukaan. Aroma khas gula merah yang karamelisasi bercampur santan langsung tercium begitu tutup kukusan dibuka.

Bagi masyarakat Melayu, rasidah itu wajib ada kalau ada kenduri, akikah, atau acara adat. Rasanya manis tapi tidak enek, sehingga cocok untuk semua umur. Namun perubahan gaya hidup membuat kue rasidah perlahan tergerus. Anak muda lebih familiar dengan kue modern yang tampilannya instagramable, dan banyak pembuat kue tradisional yang berhenti karena pesanan sepi serta proses pembuatannya dianggap ribet.

Meski begitu, beberapa pelaku UMKM di Deli Serdang mulai mencari cara baru agar kue ini tetap bertahan. Mereka mengemas kue rasidah dalam mika transparan, memberi label modern, dan memasarkannya lewat media sosial. Harga per kotak isi 10 biji dijual sekitar Rp25.000 sampai Rp35.000 tergantung ukuran dan kemasan. Salah satu pelaku usaha, “Rasidah Mama Rani”, mulai aktif jualan online sejak 2023 dan kini sudah bisa mengirim pesanan hingga ke Medan, Binjai, bahkan Jakarta. Banyak perantau yang membeli karena kangen rasa kampung.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang juga mulai melirik kue rasidah sebagai bagian dari program pelestarian budaya takbenda. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sering mengikutsertakan kue ini dalam festival kuliner dan pameran UMKM dengan harapan kue rasidah bisa menjadi oleh-oleh khas daerah. Langkah ini dinilai penting karena tanpa dokumentasi dan promosi, kue rasidah berisiko hilang seperti beberapa jajanan tradisional lainnya.

Yang membuat kue rasidah bertahan hingga kini adalah kesederhanaannya. Tidak butuh bahan mahal dan tidak butuh teknik rumit, tapi hasilnya selalu konsisten yaitu lembut, manis, dan mengenyangkan. Bagi masyarakat Melayu, satu gigitan rasidah cukup untuk mengingatkan pada rumah dan pada nenek yang dulu mengukusnya di dapur kayu. Kini, dengan kemasan baru dan pasar yang lebih luas, kue rasidah punya peluang untuk tidak sekadar bertahan, tapi berkembang. Pelestarian budaya tidak harus kaku, kadang cukup dimulai dari satu kotak kue yang dikirim ke luar kota.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....