Program PMT di Puskesmas Johan Pahlawan berdampak Positif Cegah Stunting

  • 01 Okt 2026 22:11 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Puskesmas Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, menjalankan program pemberian makanan tambahan (PMT) lokal untuk membantu meningkatkan status gizi balita dan mencegah stunting. Program Presiden dan wakil Presiden RI tersebut menyasar anak dengan berat badan tidak naik, berat badan kurang, gizi kurang, serta ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK).

Kepala Puskesmas Johan Pahlawan, dr. Syuhada, mengatakan program tersebut dilaksanakan berdasarkan hasil pemantauan melalui kegiatan posyandu di 11 desa wilayah kerjanya. Pemberian makanan tambahan dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah sesuai data sasaran, dengan melibatkan kader desa mulai dari penyiapan, pengolahan hingga pendistribusian makanan.

“Melalui program pemberian makanan tambahan ini, kita memberikan langsung kepada sasaran dari rumah ke rumah sesuai data. Kader desa juga dilibatkan dalam pengelolaan makanan, mulai dari penyiapan hingga pendistribusian,” kata Syuhada di ruang kerjanya, Kamis, 1 Oktober 2026.

Ia menyebutkan, program yang dimulai sejak April 2026 tersebut telah menunjukkan hasil positif. Berdasarkan laporan tim ahli gizi dan bidan desa, sejumlah anak mengalami peningkatan berat badan dan tinggi badan setelah mendapatkan intervensi.

Untuk sasaran balita, pemberian makanan tambahan telah selesai dan dilakukan evaluasi guna melihat perkembangan status gizi. Sementara itu, intervensi bagi ibu hamil masih berlangsung.

Ahli Gizi Puskesmas Johan Pahlawan, Rosa, menjelaskan pemberian PMT lokal dilakukan dengan durasi berbeda sesuai kondisi masing-masing sasaran.

Balita yang tidak mengalami kenaikan berat badan mendapatkan intervensi selama 14 hari, balita dengan berat badan kurang selama 28 hari, dan balita dengan gizi kurang selama 56 hari. Adapun ibu hamil dengan KEK mendapatkan makanan tambahan selama 120 hari.

“Untuk balita, intervensinya sudah selesai dan kita lakukan evaluasi. Sementara untuk ibu hamil masih berlangsung karena membutuhkan waktu pemberian selama 120 hari,” ujar Rosa.

Rosa menambahkan, peningkatan status gizi anak tidak hanya dipengaruhi ketersediaan dan daya beli makanan, tetapi juga pengetahuan orang tua mengenai pemenuhan gizi keluarga.

Karena itu, ia menilai edukasi kepada ibu mengenai pemilihan dan pengolahan makanan bergizi perlu berjalan seiring dengan pemberian makanan tambahan.

Syuhada mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Johan Pahlawan, agar aktif memperhatikan pertumbuhan balita dan kondisi kesehatan ibu hamil. Pencegahan stunting, menurutnya, perlu dilakukan sejak dini melalui pemantauan rutin di posyandu dan pemenuhan gizi yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....