Mengapa Tidur Terlalu Lama Justru Membuat Tubuh Lelah?

  • 25 Jul 2026 15:38 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Tidur merupakan kebutuhan penting bagi tubuh untuk memulihkan energi, memperbaiki jaringan, dan menjaga fungsi otak. Namun, tidak sedikit orang yang mengaku tetap merasa lelah, lesu, bahkan mengantuk setelah tidur lebih lama dari biasanya. Kondisi ini kerap terjadi saat akhir pekan atau setelah seseorang beristirahat selama lebih dari sembilan jam.

Dokter spesialis saraf, dr. Muhammad Kurniawan, Sp.N, menjelaskan bahwa orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar 7 hingga 9 jam setiap malam. Menurutnya, tidur melebihi kebutuhan tubuh tidak selalu memberikan manfaat tambahan, bahkan dapat mengganggu ritme biologis atau ritme sirkadian yang mengatur siklus tidur dan bangun seseorang.

Saat seseorang tidur terlalu lama, tubuh dapat melewati siklus tidur normal dan kembali memasuki fase tidur yang lebih dalam. Jika terbangun pada fase tersebut, seseorang berpotensi mengalami sleep inertia, yaitu kondisi ketika otak belum sepenuhnya siap untuk beraktivitas sehingga menimbulkan rasa pusing, lemas, sulit berkonsentrasi, dan kantuk yang berkepanjangan.

Selain memengaruhi ritme tidur, kebiasaan tidur berlebihan juga dapat membuat tubuh menjadi kurang aktif. Otot dan sendi yang terlalu lama berada dalam posisi yang sama dapat terasa kaku, sementara metabolisme tubuh berjalan lebih lambat. Akibatnya, seseorang justru merasa kurang bertenaga meskipun telah menghabiskan waktu lebih lama di tempat tidur.

Menurut dr. Kurniawan, tidur terlalu lama yang terjadi sesekali umumnya bukan merupakan masalah serius, misalnya setelah seseorang menjalani aktivitas fisik berat atau sedang memulihkan diri dari penyakit. Namun, apabila kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus dan disertai rasa lelah yang tidak kunjung membaik, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidur berlebihan dapat berkaitan dengan berbagai kondisi medis, seperti gangguan tidur sleep apnea, depresi, gangguan fungsi tiroid, hingga diabetes yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila sering membutuhkan waktu tidur yang sangat lama tetapi tetap merasa tidak segar setelah bangun.

Para ahli juga menekankan bahwa kualitas tidur lebih penting dibandingkan lamanya tidur. Tidur selama tujuh hingga delapan jam dengan pola yang teratur dan tanpa banyak gangguan umumnya memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan tidur sangat lama tetapi sering terbangun atau memiliki kualitas tidur yang buruk.

Untuk menjaga kualitas istirahat, masyarakat disarankan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, membatasi konsumsi kafein pada malam hari, serta rutin berolahraga. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga ritme sirkadian sehingga tubuh memperoleh waktu pemulihan yang optimal.

Dr. Kurniawan menambahkan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan tidur yang sedikit berbeda, bergantung pada usia, aktivitas, dan kondisi kesehatan. Namun, apabila rasa lelah terus berlanjut meskipun waktu tidur sudah cukup, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.

Para ahli mengingatkan bahwa tidur yang sehat bukan hanya soal durasi, melainkan juga kualitas dan keteraturannya. Dengan menjaga pola tidur yang seimbang serta menerapkan gaya hidup sehat, masyarakat dapat memperoleh manfaat istirahat secara optimal, menjaga konsentrasi, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi risiko berbagai gangguan kesehatan di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....