Cuaca Panas Turunkan Produktivitas Kerja, Ini Kata Ahli
- 24 Jul 2026 15:03 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Cuaca panas yang semakin sering terjadi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memengaruhi produktivitas kerja. Sejumlah penelitian internasional mengungkapkan bahwa paparan suhu tinggi dapat mengurangi kemampuan fisik maupun kognitif pekerja sehingga berimbas pada penurunan hasil kerja, meningkatnya kelelahan, hingga risiko kecelakaan di tempat kerja.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa workplace heat stress atau stres panas di lingkungan kerja terjadi ketika tubuh menerima beban panas yang melebihi kemampuannya untuk mendinginkan diri. Kondisi ini dipengaruhi oleh suhu udara, kelembapan, aktivitas fisik, hingga jenis pakaian yang digunakan pekerja. Akibatnya, tubuh lebih cepat mengalami dehidrasi, kelelahan, gangguan konsentrasi, bahkan heat stroke pada kondisi ekstrem.
WHO juga mencatat lebih dari 2,4 miliar pekerja di seluruh dunia terpapar panas berlebih. Sekitar 30 persen pekerja yang rutin bekerja dalam kondisi panas mengaku mengalami penurunan produktivitas. Bahkan, produktivitas kerja dapat turun sekitar 2 hingga 3 persen setiap kenaikan satu derajat di atas ambang suhu kerja yang nyaman berdasarkan indikator Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT).
Temuan tersebut diperkuat oleh sebuah systematic review yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Planetary Health. Penelitian itu menyimpulkan bahwa tekanan panas (heat strain) tidak hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan, tetapi juga menurunkan kapasitas kerja dan memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahan maupun kecelakaan kerja, terutama pada sektor yang mengandalkan aktivitas fisik seperti konstruksi, pertanian, manufaktur, hingga transportasi.
Sementara itu, kajian dalam Journal of Climate Change and Health menyebutkan perubahan iklim yang memicu meningkatnya frekuensi cuaca panas diperkirakan akan memperbesar tantangan dunia kerja. Paparan suhu tinggi terbukti memengaruhi kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, kecepatan bekerja, serta daya tahan tubuh pekerja. Peneliti menilai langkah adaptasi menjadi kebutuhan mendesak agar kesehatan dan produktivitas tetap terjaga.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pekerja lapangan. WHO menegaskan pekerja di dalam ruangan juga berisiko mengalami stres panas apabila ventilasi kurang baik, sirkulasi udara buruk, atau ruangan dipenuhi sumber panas seperti mesin produksi dan perangkat elektronik. Hal ini menunjukkan bahwa pendingin ruangan saja belum tentu mampu menghilangkan seluruh dampak panas terhadap produktivitas.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Political Economy bahkan menemukan bahwa suhu udara yang lebih tinggi berkorelasi dengan menurunnya produktivitas pekerja dan meningkatnya angka ketidakhadiran kerja. Studi tersebut juga menunjukkan lingkungan kerja dengan pengendalian suhu yang baik mampu mengurangi dampak negatif cuaca panas terhadap kinerja pekerja.
Melihat kondisi tersebut, para ahli menyarankan perusahaan menerapkan strategi mitigasi sederhana namun efektif. Di antaranya menyediakan akses air minum yang cukup, memberi waktu istirahat lebih sering saat suhu meningkat, memperbaiki ventilasi ruangan, mengatur ulang jam kerja agar aktivitas berat dilakukan pada pagi atau sore hari, serta memastikan pekerja mengenali tanda-tanda awal stres panas seperti pusing, haus berlebihan, lemas, mual, dan denyut jantung yang meningkat.
Selain tanggung jawab perusahaan, pekerja juga dianjurkan menjaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan, mengenakan pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat, mengurangi konsumsi minuman berkafein secara berlebihan saat cuaca sangat panas, serta segera beristirahat apabila mulai merasakan gejala kelelahan akibat panas.
Meningkatnya suhu udara akibat perubahan iklim diperkirakan akan menjadi tantangan jangka panjang bagi dunia kerja. Karena itu, menjaga lingkungan kerja yang aman dan nyaman tidak hanya penting untuk melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga menjadi investasi bagi produktivitas dan keberlangsungan aktivitas ekonomi di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....