Waspadai Gagal Ginjal, RSUD Cut Nyak Dhien Imbau Terapkan Pola Hidup Sehat

  • 30 Jun 2026 17:53 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Kasus penyakit ginjal kronis yang berujung pada tindakan hemodialisis atau cuci darah terus menunjukkan peningkatan, termasuk di wilayah Aceh Barat. Penyakit ini tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia, tetapi juga mulai banyak menyerang masyarakat usia produktif akibat pola hidup yang kurang sehat.

Dokter Umum Unit Hemodialisis (HD) RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, dr. Rahmi Fitriana, mengatakan penyebab utama kerusakan ginjal saat ini didominasi oleh penyakit metabolik, seperti diabetes melitus dan hipertensi yang tidak terkontrol.

"Faktor yang paling sering menyebabkan gagal ginjal saat ini adalah penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi. Selain itu, juga bisa disebabkan penyakit autoimun maupun batu ginjal. Namun, kasus terbanyak yang kami tangani berasal dari pasien hipertensi dan diabetes," ujarnya, Selasa, 30 Juni 2026.

Menurut Rahmi, tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah di ginjal sehingga fungsi penyaringan darah menurun secara bertahap hingga akhirnya menyebabkan gagal ginjal.

Ia menjelaskan, berbeda dengan organ lain, kerusakan ginjal sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Kondisi tersebut membuat banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis.

"Ginjal memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik sehingga kerusakannya sering tidak disadari. Pasien bisa saja masih beraktivitas normal meskipun fungsi ginjalnya tinggal sekitar 15 persen. Bahkan, gagal ginjal baru benar-benar berat ketika fungsi ginjal berada di bawah lima persen dan memerlukan cuci darah," katanya.

Rahmi menambahkan, pola makan dan gaya hidup menjadi faktor penting yang memengaruhi kesehatan ginjal. Konsumsi minuman manis, makanan tinggi garam, serta kurang minum air putih dapat mempercepat kerusakan organ tersebut.

"Minuman manis atau berwarna sebaiknya dibatasi. Setelah mengonsumsi minuman seperti itu, masyarakat tetap harus memperbanyak minum air putih agar ginjal dapat bekerja lebih optimal dalam membuang zat sisa metabolisme," kata dr Rahmi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar membatasi konsumsi garam tidak lebih dari satu sendok teh per hari dari seluruh makanan yang dikonsumsi. Menurutnya, garam berlebih dapat menyebabkan penumpukan cairan dan meningkatkan beban kerja ginjal.

Selain menjaga pola makan, masyarakat dianjurkan memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan mengonsumsi sekitar dua liter air putih setiap hari atau disesuaikan dengan kondisi tubuh dan aktivitas.

"Kopi sebenarnya masih boleh dikonsumsi, tetapi harus diimbangi dengan minum air putih yang cukup. Jangan sampai tubuh kekurangan cairan karena itu juga akan membebani ginjal," ujarnya.

Rahmi menegaskan, pencegahan gagal ginjal harus dimulai sejak usia muda melalui penerapan pola hidup sehat, seperti mengatur pola makan, rutin berolahraga, mengelola stres, dan menjaga berat badan ideal.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, minimal setiap enam bulan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes.

"Medical check-up sangat penting karena penyakit ginjal sering tidak menimbulkan gejala. Dengan pemeriksaan rutin, penurunan fungsi ginjal dapat dideteksi lebih awal sehingga penanganannya lebih optimal," katanya.

Rahmi turut meluruskan anggapan bahwa obat hipertensi dapat merusak ginjal. Menurutnya, justru mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter merupakan langkah penting untuk melindungi ginjal dari kerusakan yang lebih berat.

"Yang perlu dihindari adalah membeli dan mengonsumsi obat-obatan secara bebas tanpa resep dokter. Sementara obat hipertensi atau diabetes yang diresepkan dokter justru harus diminum secara rutin agar tekanan darah dan gula darah tetap terkontrol sehingga fungsi ginjal dapat terjaga," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....