Terjebak Social Comparison, Ini Dampaknya ke Percaya Diri

  • 10 Jun 2026 23:04 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Pernah merasa cukup percaya diri, lalu tiba-tiba merasa tertinggal setelah melihat unggahan orang lain di media sosial? Fenomena tersebut bisa jadi bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan efek dari social comparison atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Di era digital dan budaya yang menampilkan pencapaian serta kehidupan yang tampak sempurna, semakin banyak orang tanpa sadar menilai diri berdasarkan apa yang dimiliki, dicapai, atau ditampilkan orang lain. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan seseorang mengevaluasi kemampuan, kondisi, dan nilai dirinya melalui perbandingan dengan individu lain.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger melalui Teori Perbandingan Sosial yang menjelaskan bahwa manusia secara alami membutuhkan pembanding untuk memahami posisi dan kemampuannya. Namun, ketika perbandingan dilakukan terlalu sering atau menjadi ukuran utama dalam menilai diri sendiri, dampaknya dapat memengaruhi rasa percaya diri.

Penelitian menunjukkan bahwa social comparison memiliki dua bentuk utama. Pertama, upward comparison, yaitu ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap lebih sukses, lebih menarik, atau lebih unggul. Dalam kondisi tertentu, perbandingan ini dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Namun jika dilakukan terus-menerus tanpa pengelolaan yang sehat, kondisi tersebut justru dapat memunculkan rasa kurang mampu, perasaan tertinggal, hingga menurunkan kepuasan terhadap diri sendiri.

Sebaliknya, terdapat downward comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang yang dianggap memiliki kondisi lebih rendah. Bentuk ini dapat memberikan dorongan sementara terhadap rasa percaya diri, tetapi tidak selalu menjadi solusi jangka panjang karena nilai diri tetap bergantung pada kondisi orang lain.

Fenomena ini semakin nyata di media sosial. Berbagai penelitian menemukan bahwa paparan konten yang menampilkan pencapaian, penampilan, gaya hidup, hingga standar kesuksesan tertentu dapat memicu perbandingan sosial yang berpengaruh terhadap self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri. Semakin sering seseorang melakukan perbandingan ke atas (upward comparison), semakin besar risiko munculnya rasa tidak puas terhadap diri dan menurunnya kepercayaan diri.

Di lingkungan pendidikan maupun kehidupan sehari-hari, proses membandingkan diri sebenarnya hampir tidak dapat dihindari. Interaksi dengan teman, rekan kerja, maupun lingkungan sosial sering kali membuat seseorang menilai keberhasilan dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Padahal setiap individu memiliki titik awal, kesempatan, dan proses perkembangan yang berbeda.

Para ahli menilai bahwa kunci menjaga rasa percaya diri bukan dengan berhenti membandingkan diri sepenuhnya, melainkan mengubah cara memaknainya. Perbandingan dapat menjadi alat evaluasi yang sehat apabila digunakan untuk belajar dan berkembang, bukan untuk menentukan nilai diri. Membatasi paparan konten yang memicu tekanan, fokus pada perkembangan pribadi, serta menghargai proses yang dijalani menjadi langkah yang dapat membantu membangun kepercayaan diri yang lebih stabil.

Pada akhirnya, rasa percaya diri yang sehat tidak dibentuk dari seberapa jauh seseorang unggul dibanding orang lain, melainkan dari kemampuan mengenali dan menerima bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup serta ukuran keberhasilan yang berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....