Bukan COVID Baru, Hantavirus Diam-Diam Jadi Ancaman dari Lingkungan Kotor
- 10 Mei 2026 17:57 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul klaster kasus di kapal pesiar internasional yang menyebabkan korban jiwa. Virus yang ditularkan melalui tikus ini memicu kekhawatiran publik karena disebut dapat menyebabkan gangguan paru-paru serius hingga kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebut hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat dan menular ke manusia melalui urin, air liur, maupun kotoran tikus yang terhirup di udara. Penularan biasanya terjadi di ruangan tertutup, lembap, dan kurang bersih. WHO juga menegaskan risiko penyebaran global saat ini masih rendah.
Perhatian global meningkat setelah WHO melaporkan delapan kasus hantavirus tipe Andes di kapal pesiar MV Hondius dengan tiga kematian hingga awal Mei 2026. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan wabah tersebut “bukan awal pandemi baru seperti COVID-19”.
Pakar kedaruratan kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, menjelaskan tidak ada tanda-tanda hantavirus akan berkembang menjadi pandemi global. Menurutnya, penularan virus Andes sejauh ini hanya terjadi dalam kontak dekat dan berkepanjangan sehingga masih dapat dikendalikan melalui pelacakan kontak dan isolasi pasien.
Sementara itu, epidemiolog asal Amerika Serikat, Ali Khan, menyebut hantavirus berbeda dengan COVID-19 karena penyebarannya jauh lebih sulit. Ia mengatakan virus ini membutuhkan kontak erat dalam waktu lama untuk menular antarmanusia sehingga peluang menjadi pandemi massal dinilai kecil.
WHO menjelaskan gejala awal hantavirus meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga sesak napas. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru akut dan gagal napas. Risiko paparan terbesar berasal dari lingkungan yang terkontaminasi tikus seperti gudang, rumah kosong, atau area penyimpanan yang jarang dibersihkan.
Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di sekitar permukiman. Pemerintah dan otoritas kesehatan dunia juga terus memantau perkembangan kasus guna mencegah penyebaran lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....