Puasa Ramadan Momentum Reset Metabolisme dan Pola Hidup Sehat

  • 23 Feb 2026 09:55 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh: Puasa Ramadan tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang diakui dalam dunia medis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu memperbaiki sensitivitas insulin, menurunkan kadar gula darah, serta memberi waktu istirahat bagi sistem pencernaan.

Dokter umum Rumah Sakit Cut Nyak Dhien, Rahmi menegaskan manfaat tersebut bisa dirasakan apabila pola sahur dan berbuka dilakukan dengan tepat. “Kunci mampu beribadah selama Ramadan adalah cadangan energi yang disiapkan sejak sahur hingga berbuka,” ujar dr. Rahmi, Jumat 20 Februari 2026.

Ia menjelaskan, tubuh manusia secara fisiologis terbiasa makan tiga kali sehari sehingga organ pencernaan bekerja terus-menerus. “Saat puasa, organ mendapat kesempatan beristirahat, metabolisme menyesuaikan diri, dan hormon seperti insulin mengalami perbaikan pola kerja,” jelasnya.

Secara ilmiah, konsep ini sejalan dengan metode intermittent fasting yang banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir.

Studi yang dipublikasikan di jurnal kesehatan internasional menunjukkan bahwa pola puasa terkontrol dapat membantu proses perbaikan sel (autofagi) dan menjaga keseimbangan metabolisme. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa manfaat ini sangat bergantung pada kualitas asupan makanan.

Sementara itu, Emi Hartini mendorong Gerakan Hidup Sehat seperti melakukan aktivitas fisik diperlukan selama Ramadan. “Jalan pagi setelah Subuh atau olahraga ringan membantu menjaga kebugaran dan sirkulasi darah,” ujarnya.

Organisasi kesehatan dunia juga merekomendasikan aktivitas fisik ringan hingga sedang secara rutin untuk menjaga daya tahan tubuh, termasuk saat berpuasa.

Dalam hal berbuka, dr. Rahmi mengingatkan agar masyarakat menghindari makanan tinggi gula sederhana dan lemak jenuh. Konsumsi gula berlebihan saat berbuka dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.

Karena itu, prinsip gizi seimbang seperti yang dianjurkan dalam pedoman “Isi Piringku” seperempat karbohidrat kompleks, setengah buah dan sayur, serta protein secukupnya dinilai lebih aman dan menyehatkan.

Bagi penderita penyakit tertentu, puasa memerlukan pengawasan medis. “Pasien hipertensi dan diabetes yang terkontrol umumnya masih bisa berpuasa dengan penyesuaian obat dan pola makan,” kata dr. Rahmi.

Namun pasien gagal ginjal perlu berhati-hati terhadap asupan tinggi kalium, termasuk konsumsi kurma secara berlebihan. Penderita maag juga dianjurkan menghindari makanan pemicu asam lambung saat berbuka.

Di awal Ramadan, tubuh biasanya mengalami fase adaptasi yang dapat memunculkan gejala seperti lemas atau hipoglikemia.

“Jika muncul tanda gula darah turun, segera periksa dan utamakan keselamatan,” tegas dr. Rahmi. Ia menambahkan, kebutuhan cairan dapat dipenuhi dengan pola 2-4-2 agar tubuh tetap terhidrasi. Dengan pengelolaan yang tepat, Ramadan dapat menjadi momentum ibadah sekaligus perbaikan kesehatan secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....