Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Berlebih Picu Penyakit Tidak Menular

  • 17 Feb 2026 12:59 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh: Tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung di Indonesia. Pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, stroke, diabetes, serta berbagai penyakit kronis lainnya.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen, sementara diabetes melitus berdasarkan pemeriksaan gula darah sebesar 10,9 persen pada penduduk usia di atas 15 tahun. Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Aripin Ahmad menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan menetapkan batas konsumsi harian GGL yang dikenal dengan anjuran “G4G1L5”, yaitu gula maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari, garam maksimal 5 gram atau 1 sendok teh per hari, serta lemak maksimal 67 gram atau sekitar 5 sendok makan minyak per hari.

Di Aceh, konsumsi gula dinilai masih relatif tinggi, terutama dari minuman manis dan makanan olahan. Kondisi ini menjadi perhatian DPD Persatuan Ahli Gizi Aceh yang terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat.

Ketua DPD Persatuan Ahli Gizi Aceh, Aripin, mengatakan pihaknya rutin melakukan sosialisasi ke sejumlah sekolah guna meningkatkan kesadaran pelajar tentang pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sejak usia dini.

“Kami ingin membentuk generasi yang sadar terhadap pola makan sehat. Apa yang dikonsumsi hari ini akan sangat menentukan kondisi kesehatan di usia pertengahan,” ujarnya, Jumat 13 Februari 2026.

Selain sosialisasi di sekolah, DPD Gizi Aceh juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat serta kajian dan riset terkait pola konsumsi lokal. Menurut Arifpn, kesadaran masyarakat mulai meningkat, namun masih banyak yang belum memahami kandungan gula, garam, dan lemak tersembunyi dalam makanan dan minuman kemasan.

Ia mengimbau masyarakat agar lebih cermat membaca label informasi nilai gizi pada kemasan produk dan mulai membiasakan pola makan seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah.

“Penyakit tidak menular berkembang perlahan dan sering tanpa gejala awal. Karena itu, pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak menjadi langkah pencegahan paling efektif,” ujarnya dalam menutup perbincangan dengan RRI Meulaboh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....